Syafei et al (2003) juga melakukan penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan ZAE skala 1:50.000 di Kabupaten Padang Pariaman bagian Selatan, Sumatera Barat dengan luas wilayah 36.820 ha. Hasil kegiatan menunjukan bahwa telah dihasilkan peta satuan lahan dengan 16 satuan lahan dan peta pewilayahan komoditas pertanian dengan 12 satuan peta pewilayahan komoditas. Masing-masing satuan peta telah ditentukan luas dan komoditas utama/unggulannya.
BPTP Bengkulu dari tahun 2002 hingga 2004 menyusun peta pewilayahan komoditas pertanian pada beberapa kecamatan. Peta disusun melalui pendekatan analisis terrain dari foto udara untuk mendapatkan peta satuan lahan. Peta satuan lahan diverifikasi di lapangan untuk mendapatkan data/peta kesesuaian lahan. Data/peta kesesuaian lahan kemudian diintegrasikan dengan data sosial ekonomi pertanian, komoditas ungulan daerah dan peta penggunaan lahan sekarang. Pengolahan data untuk mendapatkan peta pewilayahan komoditas pertanian dilakukan melalui program MPK versi 1,0. Hasil pewilayahan menunjukan bahwa Kecamatan Curup, Bermani Ulu dan Selupu Rejang di Kabupaten Rejang Lebong terbagi ke dalam 17 satuan peta, Kecamatan Manna dan Seginim di Kabupaten Bengkulu Selatan ke dalam 15 satuan peta pewilayahan komoditas. Masing-masing satuan peta telah ditentukan luas dan alternatif komoditasnya (Gunawan et al., 2004).
Busyra et al (2006) melakukan pewilayahan komoditas pertanian di beberapa Kecamatan di Propinsi Jambi (Kecamatan Rimbo Bujang dan Tanah Sepenggal di Kabupaten Tebo; Kecamatan Sarolangun dan Pauh di Kabupaten Sarolangun; dan Kecamatan Muara Tembesi di Kabupaten Batang Hari). Dengan melakukan pewilayahan komoditas sesuai metode yang dikembangkan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat maka telah tersusun pet-peta berskala 1:50.000 (peta kesesuaian lahan untuk 7 komoditas dan Peta pewilayahan komoditas pertanian).
Hamdan (2014) menyusun peta pewillayahan komoditas pertanian di Kabupaten Mukomuko, Propinsi Bengkulu. Dari kegiatan pemetaan bisa diidentifikasi wilayah untuk pengembangan tanaman padi seluas 195.475 ha dengan rincian padi sawah dengan kesesuaian lahan S2 (sesuai bersyarat) seluas 8.104 ha dan S3 (sesuai marjinal) seluas 91.009 ha. Padi Sawah tadah hujan dapat diusahakan pada lahan seluas 94.590 ha dengan kelas kesesuaian lahan S3. Sedangkan untuk pengembangan tanaman perkebunan bisa dilakukan pada lahan seluas 206.310 ha. Untuk tanaman perkebunan perlu pengaturan lebih lanjut karena kesesuaian lahan bervariasi dari sesuai bersyarat hingga sesuai marjinal.
Nazam et al (2014) menyusun peta pewilayah komoditas pertanian di Kabupaten Bima, Propinsi Nusatenggara Barat. Pendekatan yang dilakukan analisis terrain foto udara untuk mendapatkan peta satuan lahan sebagai peta analisis. Peta satuan lahan diperoleh dari hasil tumpangtepat peta RBI skala 1:25.000, citra landsat TM skala 1:60.000, peta geologi lembar Sumbawa skala 1:250.000, peta agroklimat NTT/NTB skala 1:500.000 dan peta tanah tinjau skala 1:250.000. Dari hasil verifikasi peta analisis, pengamatan karakteristik tanah lapangan dan analisis tanah laboratorium dilakukan evaluasi lahan menggunakan program ALES (Automated Land Evaluation System). Selanjutnya peta pewilayahan komodits diproses dengan program MPK. Salah satu subzona penting yang teridentifikasi untuk dikembangkan adalah III/Def (32.723 ha) dengan sistem pertanian lahan kering untuk komoditas tanaman perkebunan, hortikultura dan pangan. Peta sebelum dicetak dilakukan verifikasi sekali lagi ke lapangan untuk mendapatkan masukan dari calon pengguna.
Baca juga: Penyusunan Peta Perwilayahan Komoditas Pertanian
Di Kecamatan Babulu dan Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Propinsi Kalimantan Timur telah disusun pula peta pewilayahan komoditas pertanian pada tahun 2015. Metodologi melakukan analisis terrain menggunakan landform sebagai dasar mendapatkan peta satuan lahan. Peta-peta yang digunakan dalam kegiatan anatara lain: peta RBI skala 1:250.000, SRTM/DEM resolusi 30 m, peta tanah tinjau skala 1:250.000, peta wilayah administrasi, peta sebaran lahan sawah Indonesia dan peta geologi. Hasil pewilayahan diantaranya menunjukan bahwa di Kecamatan Babulu ditemukan subzona III/Dfhe (14.751 ha) yang bisa dikembangkan untuk sistem pertanian lahan kering dengan kelompok komoditas tanaman pangan, hortikultura dan tanaman tahunan. Sedangkan di Kecamatan Penajam ada subzona IV/Wrfhe (6.899 ha) yaitu sistem pertanian lahan basah yang dapat mengembangkan komoditas seperti Padi Sawah, Ubi Jalar dan Pisang (Anonymous, 2015).
Wati dan Munir (2016) melakukan identifikasi lahan basah yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sawah di Kabupten Serang, Propinsi Banten dengan menerapkan metode yang dikembangkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Peranian. Dalam kegiatan ini bisa teridentifikasi 5 zona agro-ekologi dari lahan survei seluas 121.651 ha. Hasil yang dikemukakan antara lain teridentifikasinya lahan seluas 46.771 ha (subzona IV/Wfs) untuk pengembangan padi sawah dengan alternatif komoditas Padi Sawah, Jagung, Kedele, Cabe dan Bawang Merah. Upaya yang disarankan untuk perbaikan faktor pembatas media perakaran adalah dengan teknik pembuatan saluran drainase.
