C. Peta Zona Agro-Ekologi Skala 1:50.000
Peta ZAE skala 1:50.000 merupakan pendetilah dari peta ZAE skala 1:250.000. Dalam perkembangannya peta tersebut lebih dikenal dengan nama Peta Pewilayaahan Komoditas Pertanian. Peta ZAE skala 1:50.000 mengandung informasi sumberdaya lahan yang lebih rinci dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung perencanaan pertanian dan tata ruang tingkat kabupaten/kota. Guna memenuhi permintaan informasi geospasial tematik skala besar yang semakin meningkat, melengkapi basisdata tanah dan sekaligus mendukung program pemerintah menuju gerakan One Map Policy maka peta ZAE skala 1:250.000 perlu didetilkan delineasinya menjadi peta semi detil skala 1:50.000 (Hikmatullah dan Ritung, 2014).
Pada awal tahun 2000-an ada usaha percepatan penyediaan data geospasial sumberdaya lahan skala 1:50.000 untuk menyusun peta pewilayahan komoditas pertanian. Penelitian studi kasus telah dilakukan dengan cara analisis terrain untuk menyusun peta satuan lahan skala 1:50.000 sebagai model peta pewilayahan komoditas yang belum ada data sumberdaya lahannya. Tujuannya adalah untuk membantu BPTP menyusun peta pewilayahan komoditas pertanian. Penyusunan peta pewilayahan komoditas menggunakan peta satuan lahan yang didukung data sosial ekonomi pertanian (kelayakan usahatani). Penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian tersebut kemudian diterapkan di beberapa lokasi antara lain di daerah Rantepao, Sulawesi Selatan dan daerah Pandeglang, Banten (Hikmatullah dan Ritung, 2014). Untuk mempermudah pengolahan datanya telah disusun Modul Pewilayahan Komoditas (MPK) versi 1.2. (Bachri et al., 2002).
Adanya pemekaran wilayah provinsi, yaitu Gorontalo, Bangka Belitung, Banten dan Maluku Utara, Tim Asistensi Badan Litbang Pertanian tahun 2002-2003 melakukan penyusunan peta pewilayahan komoditas skala 1:50.000 di empat provinsi tersebut. Tujuannya adalah untuk membantu penyusunan percontohan peta-peta skala 1:50.000 kepada BPTP provinsi baru. Dari kasus tersebut kemudian muncul pada legenda peta ZAE skala 1:50.000 simbol-simbol seperti: I/Dj, II/De, III/Def, IV/Wr dan seterusnya, yang berkorelasi dengan zona utama peta ZAE skala 1:250.000, yaitu simbol I, II, III dan seterusnya. Sebagai contoh simbol III/Def, artinya: III = Lahan dengan kelas lereng 8-15%, D = pertanian lahan kering, e = komoditas tanaman tahunan/perkebunan, dan f = tanaman pangan/semusim. Metode ini kemudian diterapkan di Kabupaten Blora, Temanggung, Lombok Timur, Donggala dan Ende (Hikmatullah dan Ritung, 2014).
Sejak tahun 2013 pendekatan penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian skala 1:50.000 mengacu kepada pendetilan peta tanah skala 1:250.000. Juga digunakan peta batas wilayah administrasi kabupaten untuk memudahkan pemerintah kabupaten setempat dalam mempelajari potensi sumberdaya lahan dan menyusun perencanaan masing-masing kabupaten. Sampai dengan tahun 2014 telah tersusun peta pewilayahan komoditas pertanian skala 1:50.000 berjumlah sekitar 160 kabupaten di Jawa dan luar Jawa (Hikmatullah dan Ritung, 2014).
Berdasarkan pengalaman dan kemajuan teknologi SIG, telah disusun evaluasi lahan dalam bentuk program SPKL (Sistem Penilaian Kesesuaian Lahan) versi 2.0. Program tersebut secara langsung menilai kesesuaian lahan sekaligus untuk menyusun peta pewilayahan komoditas pertanian (Bachri, 2015). Dengan memasukkan data karakteristik lahan hasil pengamatan lapang dan analisis laboratorium dengan lengkap dan benar maka akan diperoleh secara otomatis kelas kesesuaian lahan dengan faktor pembatasnya dan hasil pewilayahan komoditas pertanian sesuai dengan model yang dibangun.
Pengalaman penyusunan/penggunaan peta ZAE skala 1:50.000. Winardi et al (2002) menyusun peta pewilayahan komoditas pertanian Kecamatan Arga Makmur dan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara, Propinsi Bengkulu. Penelitian/pengkajian dimulai dengan analisis terrain. Analisis terrain dilakukan melalui interpretasi foto udara. Dengan mentransfer hasil analisis terrain ke peta dasar skala 1:50.000 diperloleh peta satuan lahan analisis. Peta satuan lahan analisis diverifikasi di lapangan untuk mengecek terrain, sekaligus pengamatan dan pengambilan sampel tanah, verifikasi penggunaan lahan/vegetasi dan pengumpulan data sosial ekonomi. Data yang diperoleh dianalisis untuk memperoleh data/peta kesesuaian lahan. Dengan mengintegralkan data/peta kesesuaian lahan, kelayakan usahatani, komoditas unggulan daerah dan dikoreksi dengan peta penggunaan lahan eksisting maka diperoleh peta pewilayahan komoditas pertanian (lihat Gambar 5).
Winardi dan kawan-kawan pada tahun 2004 juga melakukan penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian skala 1:50.000 di Kecamatan Kubung dan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Propinsi Sumatera Barat. Dari kegiatan tersebut dihasilkan 10 satuan peta pewilayahan komoditas pertanian. Disamping direkomendasikannya komoditas utama untuk setiap satuan peta juga direkomendasikan bentuk pengelolaan usahatani, seperti melakukan konservasi, rehabilitasi, ektstensifikasi dan diversifikasi pada satuan peta pewilayahan penting. Peta pewilayahan komoditas pertanian seperti terlihat pada Gambar 6 sedangkan legendanya pada Gambar 7 (Winardi, 2007).

Winardi dan Yufdi (2011a) melakukan penelitian/pengkajian identifikasi pengembangan pola tanam lahan sawah menggunakan peta pewilayahan komoditas pertanian Kecamatan Kubung dan Gunung Talang di atas. Verifikasi peta diikuti dengan pengamatan biofisik lainnya serta penelitian/pengkajian aspek sosial ekonomi seperti survei Pemahaman Pedesaan Waktu Singkat (Rapid Rural Apraisal/RRA) dan kelayakan usahatani. Penelitian/pengkajian menunjukan adanya berbagai pola tanam anajuran, antara lain: a). Padi Sawah-Jagung atau Padi Sawah-Cabe di Kenagarian (Desa) Gantung Ciri dan Koto Hilalang (936 ha); dan b). Padi Sawah-Jagung dan Padi Sawah Sayur (Cabe, Kacang Panjang, Mentimun) di Kenagarian Gaung dan Saok Laweh (690 ha).
Peta pewilayahan komoditas pertanian Kecamatan Kubung dan Gunung Talang juga digunakan untuk mengidentifikasi potensi pengembangan Sistem Integrasi Tanaman-Ternak (SITT). Metode penelitian/pengkajian dilakukan sama dengan identifikasi pengembangan pola tanam. Penelitian/pengkajian menunjukan bahwa di Kenagarian Koto Baru, Selayo dan Tanjung Bingkung berpotensi dikembangkan Sistem Integrasi Tanaman-Ternak pada lahan seluas 1.707 ha. Pakan alternatif untuk sapi cukup tersedia di wilayah tersebut seperti jerami, dedak dan limbah tanaman lainnya (Winardi dan Yufdi, 2011b).


