Posted on — Leave a comment

Inovasi Teknologi Budidaya Kedelai Untuk Peningkatan Hasil

Oleh: Winardi Khatib

Ilustrasi pertanaman kedelai

Kedelai merupakan komoditas penting di Indonesia. Kebutuhan kedelai untuk bahan pangan adalah 2,6 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut baru 1/3 bagian terpenuhi oleh produksi kedelai nasional. Sisanya masih diimpor dari luar negeri.

Produktivitas kedelai di Indonesia masih tergolong rendah, yaitu sekitar 1, 2 ton per hektar. Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain kurangnya ketersediaan benih bermutu dan rendahnya kesuburan sebagian lahan.

Potensi produktivitas kedelai bisa ditingkatkan menjadi 2 ton per hektar bahkan lebih apabila menerapkan teknologi budidaya dengan baik. Dalam hal ini Badan Litbang Pertanian telah banyak berkontribusi. Apa saja teknologi budidaya tersebut akan diuraikan di bawah ini.

1. Benih Bermutu dan Varietas Unggul.

Benih bermutu sangat menentukan dalam usahatani kedelai. Benih yang digunakan hendaklah benih yang telah lulus proses sertifikasi. Benih bermutu mengasilkan tanaman yang sehat dan seragam. Persyaratan benih yang digunakan adalah: daya tumbuh diatas 85 %, bernas, bersih dari kotoran dan tidak tercampur biji tanaman lain. Dianjurkan menggunakan benih yang baru dan menghindari benih yang telah disimpan lebih dari 3-4 bulan. Kebutuhan benih adalah sekitar 40 kg per hektar.

Benih yang digunakan dipilih dari varietas unggul atau varietas yang telah dianjurkan. Pemilihan varietas hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, seperti ada yang menyukai kedelai berbiji besar, sedang atau kecil. Pemilihan varietas dapat pula berdasarkan kesesuaian dengan agroekosistem, seperti lahan kering, lahan sawah dan pasang surut.

Varietas unggul baru (VUB) merupakan varietas yang baru dilepas oleh pemerintah dan biasanya berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit utama atau tahan terhadap lingkungan setempat serta memiliki sifat khusus (misalnya berukuran biji kecil sedang atau besar). Beberapa contoh VUB antara lain Grobogan, Anjasmoro, Argo Mulyo, Gepak Kuning dan Detam 1.

2. Penyiapan Lahan.

Pada lahan kering dilakukan pengolahan tanah sempurna, yaitu dibajak dua kali dan digaru atau perataan tanah satu kali. Sedangkan pada lahan sawah yang baru dipanen dilakukan tanpa olah tanah (TOT) namun jerami perlu dipotong pendek dan disebar rata dipermukaan tanah. Jerami tersebut bermanfaat untuk menjaga kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma dan mencegah lalat kacang.

Suatu hal yang penting juga untuk keberhasilan pertanaman kedelai adalah pembuatan saluran drainase.  Hal tersebut berguna untuk membuang air tanah yang berlebih atau untuk mengalirkan air pada musim hujan. Saluran tersebut juga dapat digunakan untuk pengairan apabila terjadi kekeringan, yaitu pada lahan  yang memiliki sumber air pengairan. Saluran dibuat di sekeliling dan di dalam petakan. Jarak saluran di dalam petakan sekitar 3 m, yaitu dengan lebar dan dalam 20 cm.

Untuk lahan kering masam perlu dilakukan perbaikan (ameliorasi) lahan untuk menurunkan kejenuhan Aluminium yang meracun tanaman serta meningkatkan kemasaman (pH) tanah. Bahan amelioran yang digunakan biasanya kapur pertanian (Dolomit atau Kalsit). Kapur dicampur dengan tanah sewaktu pengolahan tanah terakhir. Jumlah kapur yang diberikan untuk lahan dengan pH 5,0; 5,3; dan 5,6 secara berturut-turut adalah 2,0; 1,0; dan 0,5 ton per hektar.

Bahan organik berupa residu tanaman, pupuk hijau atau pupuk kandang bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan tanah baik secara fisik, kimia dan biologi. Apabila bahan organik cukup tersedia maka bahan tersebut bisa diberikan 5 ton per hektar untuk pertumbuhan tanaman yang optimal. Bahan organik diberikan bersamaan dengan kapur, yaitu sewaktu pengolahan tanah terakhir.

3. Penanaman 

Bertanam kedelai hendaknya disesuaikan dengan musim. Tanam tepat waktu bertujuan untuk menghindari pertanaman dari kendala kekeringan atau kebanjiran.  Untuk memeperoleh mutu biji dan benih yang baik perlu diupayakan panen pada saat cuaca cerah.

Sebelum bertanam pastikan permukaan tanah  rata dan gembur. Rencanakan populasi tanaman 350.000 hingga 50.000 tanaman per hektar. Buat jarak antar baris 40 cm dan jarak tanam dalam baris 10 cm, setiap lobang diisi 2-3 biji. Populasi tersebut merupakan pulasi tanaman optimal. Namun bila musim hujan (MH)  jarak  tanam dapat diperlebar dan sebaliknya musim kemarau (MK) jarak tanam dipersempit.

Bertanam dilakukan dengan cara tugal, yaitu dengan kedalaman  3 cm. Bersamaan menanamkan benih disetiap lobang ditambahkan sejumput insektisida butiran untuk pencegah semut atau serangga pemakan benih. Terakhir lobang tanaman ditutup dengan tanah halus. Pada tanah yang pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium, serperti Rhizoplus dan Legin. Apabila rhizobium tidak tersedia dapat menggunakan tanah bekas pertanaman kedelai yang ditebar pada baris tanam.

Posted on — Leave a comment

Peyusunan Peta Pewilayahan Komoditas Pertanian Skala 1:50.000

Oleh: Winardi Khatib

I. Pendahuluan 

Pembangunan pertanian pada dasarnya adalah upaya untuk meningkatkan kualitas hidup petani yang dicapai melalui strategi investasi dan kebijakan pengembangan profesional dan produktivitas tenaga kerja pertanian, pengembangan prasarana dan sarana ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi disertai dengan penataan dan pengembangan kelembagaan pedesaan. Namun pembangunan pertanian ke depan dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain pemenuhan kecukupan pangan, persaingan pasar global, penyediaan lapangan kerja dan peningkatan produktivitas angkatan kerja serta optimasi pemanfaatan  dan pelestarian suberdaya alam yang ada (Amin, 1994).
Sejalan dengan pemikiran di atas maka penting untuk diupayakan bentuk pertanian yang berorientasi agribisnis yang mempunyai berbagai ciri, yaitu pertanian yang maju, tangguh, efisien dan berkelanjutan.  Untuk mewujudkan pertanian yang dimaksud maka di setiap wilayah terutama tingkat kabupaten/kota dilakukan upaya penggunaan lahan secara optimal. Optimasi penggunaan lahan akan dapat dicacapai melalui alokasi penggunaan lahan yang tepat sekaligus melakukan pengendalian di dalam penggunaannya.  Untuk mencapai sasaran tersebut perlu terlebih dahulu dilakukan identifikasi dan karakterisasi sumberdaya lahan yang ada.
Meningkatnya kebutuhan lahan untuk berbagai keperluan termasuk untuk produksi bahan pangan, serat dan papan serta tekanan penduduk yang besar dalam pertumbuhan ekonomi dan industri berdampak timbulnya kompetisi penggunaan lahan di berbagai sektor  termasuk sektor pertanian. Hal ini menekankan perlunya perencanaan dan pengelolaan sumberdaya lahan yang rasional dan berkelanjutan sesuai dengan daya dukungnya. Dengan demikian, informasi geospasial sumberdaya lahan yang akurat sangat diperlukan sebagai informasi dasar untuk mendukung perencanaan penggunaan lahan yang berkelanjutan, khususnya di sektor pertanian dan perkebunan.
Sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud apabila sumberdaya lahan dipergunakan untuk sistem pertanian yang tepat dengan cara pengelolaan yang sesuai. Apabila lahan tidak digunakan dengan tepat, produktivitas akan cepat menurun dan ekosistem menjadi terancam kerusakan. Penggunaan lahan yang tepat tidak hanya menjamin bahwa lahan memberi manfaat untuk pemakai masa kini tetapi juga menjamin bahwa sumberdaya lahan ini bermanfaat untuk generasi penerus di masa yang akan datang secara berkelanjutan (Amien 1994).
Sejak awal tahun tahun 2000-an Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanain telah menyusun peta Zona Agro-Ekologi (ZAE) yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan karakterisasi sumberdaya lahan pertanian pada skala 1:250.000 dan skala 1:50.000. Jenis peta yang pertama dimaksudkan untuk perencanaan wilayah yang lebih luas yaitu tingkat regional/propinsi. Sedangkan jenis peta kedua dimaksudkan untuk wilayah kabupaten/kota. Pendekatan ZAE dapat digunakan untuk perencanaan, pengelolaan dan monitoring sumberdaya lahan, seperti untuk inventarisasi potensi sumberdaya lahan, inventarisasi tipe penggunaan lahan (land utilization type), sistem produksi, kesesuaian lahan, evaluasi produktivitas lahan dan lain-lain.
Tulisan ini adalah upaya penulis dalam hal: a) Memperkenalkan peta pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan ZAE; b). Menyampaikan pengalaman penulis dalam penyusunan dan penggunaan peta ZAE; dan c). Menyampaikan prosedur penyusunan peta ZAE secara ringkas. Tulisan sederhana ini Penulis sumbangkan kepada Fakultas Pertanian, Universitas Andalas beserta seluruh almamater sekaitan menyongsong Dies Natalis ke 68 yang jatuh pada tanggal 30 November 2022. Harapan penulis semoga konsep pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan Zona Agro-Ekologi bisa menjadi acuan dalam pengembangan pertanian ke depan.

II. Penyusunan Peta Pewilayahan Komoditas Pertanian

Peta pewilayahan komoditas pertanian yang dimaksud disini adalah peta zona agro-ekologi (ZAE) skala 1:50.000. Untuk menyusun peta tersebut dibutuhkan lima tahap, yaitu: 1). Persiapan; 2). Penyusunan peta analisis; 3). Survei lapangan; 4). Pengolahan data dan evaluasi lahan; dan 5). Penyusunan peta pewilayahan komoditas pertanian. Penyusunan peta secara ringkas seperti akan disampaikan di bawah ini. Bagi yang berminat untuk mempelajari lebih lanjut dapat kiranya mencari bahan bacaan atau informasi  dari literatur yang dilampirkan pada Daftar Pustaka.

A. Persiapan

Persiapan yaitu berupa pengumpulan atau pengadaan bahan dan alat berupa peta dasar, peta tematik, alat dan bahan survei lapangan, ATK dan komputer beserta perangkat lunak yang dibutuhkan. Bahan laporan atau referensi tentang wilayah yang akan dipetakan   sedapat mungkin dikumpulkan sebelum kegiatan dimulai (Winardi, 2007).
Jenis peta yang perlu dipersiapkan untuk pembuatan peta satuan lahan analisis antara lain: a). Peta RBI digital skala 1:50.000 sebagai peta dasar, b). Peta tematik, seperti: peta DEM/kontur resolusi 30 m yang sudah mempunyai proyeksi sama dengan Peta RBI, peta tanah tinjau (skala 1:250.000) digital bersama tabel legendanya dari Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, peta geologi, peta batas administrasi dari BPS dan citra satelit. Selain itu diperlukan pula peta-peta penunjang, seperti peta penggunaan lahan dari BPN, peta sebaran sawah dari Kementerian Pertanian, peta kawasan hutan dan peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dari kabupaten/kota (Anonymous, 2001). Berbagai bahan peta yang dibutuhkan untuk membuat peta satuan lahan analisis dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1.  Berbagai bahan peta yang digunakan untuk interpretasi peta satuan lahan analisis (Sumber: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, 2014).

Satu paket bahan kimia juga diperlukan untuk analisis contoh tanah secara laboratorium. Untuk penetapan pH tanah di lapangan dibutuhkan kertas Lakmus. Diperlukan pula kantong plastik ukuran 1-2 kg untuk contoh tanah yang diambil di lapangan. Untuk mengumpulkan data pokok wilayah, iklim, sosial ekonomi, pertanian, prasarana/infrastruktur wilayah diperlukan sumber data berupa Kabupaten atau Kecamatan Dalam Angka dan laporan atau bahan referensi lain yang berkaitan dengan objek penelitian. Selain itu diperlukan alat tulis kantor (ATK) untuk kelancaran penelitian/pengkajian (Anonymous, 2001).
Seperangkat komputer yang diperlukan memiliki spesifikasi minimum sebagai berikut: (a) Hardwere (PC Pentium Intel, RAM 64 MB, HD 2 GB atau lebih besar; (b) Software (Sistem operasi Windows 2007, Microsoft Office, ArcView, ArcGIS, SAGA-GIS, Global Mapper, Sistem Penetapan Kesesuaian Lahan (SPKL) versi 2.0. Peralatan lapang yang dibutuhkan antara lain: bor tanah Belgia, pisau lapang, sekop/alat penggali tanah, Buku Muncell Soil Colour Charts, pH truogh, GPS, kompas, abney level, altimeter, loupe, meteran baja, form isian data lapangan serta petunjuknya, buku klasifikasi tanah, sepatu lapangan, topi lapangan, kamera, buku catatan dan lain-lain (Anonymous, 2013).

Posted on — Leave a comment

Mengenal Peta Zona Agro-Ekologi (ZAE)

Oleh: Winardi Khatib

A. Pendahuluan

Pembangunan pertanian pada dasarnya adalah upaya untuk meningkatkan kualitas hidup petani yang dicapai melalui strategi investasi dan kebijakan pengembangan profesional dan produktivitas tenaga kerja pertanian, pengembangan prasarana dan sarana ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi disertai dengan penataan dan pengembangan kelembagaan pedesaan. Namun pembangunan pertanian ke depan dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain pemenuhan kecukupan pangan, persaingan pasar global, penyediaan lapangan kerja dan peningkatan produktivitas angkatan kerja serta optimasi pemanfaatan dan pelestarian suberdaya alam yang ada (Amin, 1994).
Sejalan dengan pemikiran di atas maka penting untuk diupayakan bentuk pertanian yang berorientasi agribisnis yang mempunyai berbagai ciri, yaitu pertanian yang maju, tangguh, efisien dan berkelanjutan. Untuk mewujudkan pertanian yang dimaksud maka di setiap wilayah terutama tingkat kabupaten/kota dilakukan upaya penggunaan lahan secara optimal. Optimasi penggunaan lahan akan dapat dicacapai melalui alokasi penggunaan lahan yang tepat sekaligus melakukan pengendalian di dalam penggunaannya. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu terlebih dahulu dilakukan identifikasi dan karakterisasi sumberdaya lahan yang ada.
Meningkatnya kebutuhan lahan untuk berbagai keperluan termasuk untuk produksi bahan pangan, serat dan papan serta tekanan penduduk yang besar dalam pertumbuhan ekonomi dan industri berdampak timbulnya kompetisi penggunaan lahan di berbagai sektor termasuk sektor pertanian. Hal ini menekankan perlunya perencanaan dan pengelolaan sumberdaya lahan yang rasional dan berkelanjutan sesuai dengan daya dukungnya. Dengan demikian, informasi geospasial sumberdaya lahan yang akurat sangat diperlukan sebagai informasi dasar untuk mendukung perencanaan penggunaan lahan yang berkelanjutan, khususnya di sektor pertanian dan perkebunan.
Sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud apabila sumberdaya lahan dipergunakan untuk sistem pertanian yang tepat dengan cara pengelolaan yang sesuai. Apabila lahan tidak digunakan dengan tepat, produktivitas akan cepat menurun dan ekosistem menjadi terancam kerusakan. Penggunaan lahan yang tepat tidak hanya menjamin bahwa lahan memberi manfaat untuk pemakai masa kini tetapi juga menjamin bahwa sumberdaya lahan ini bermanfaat untuk generasi penerus di masa yang akan datang secara berkelanjutan (Amien 1994).
Sejak awal tahun tahun 2000-an Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanain telah menyusun peta Zona Agro-Ekologi (ZAE) yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan karakterisasi sumberdaya lahan pertanian pada skala 1:250.000 dan skala 1:50.000. Jenis peta yang pertama dimaksudkan untuk perencanaan wilayah yang lebih luas yaitu tingkat regional/propinsi. Sedangkan jenis peta kedua dimaksudkan untuk wilayah kabupaten/kota. Pendekatan ZAE dapat digunakan untuk perencanaan, pengelolaan dan monitoring sumberdaya lahan, seperti untuk inventarisasi potensi sumberdaya lahan, inventarisasi tipe penggunaan lahan (land utilization type), sistem produksi, kesesuaian lahan, evaluasi produktivitas lahan dan lain-lain.
Tulisan ini adalah upaya penulis dalam hal: a) Memperkenalkan peta pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan ZAE; b). Menyampaikan pengalaman penulis dalam penyusunan dan penggunaan peta ZAE; dan c). Menyampaikan prosedur penyusunan peta ZAE secara ringkas. Harapan penulis semoga konsep pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan Zona Agro-Ekologi bisa menjadi acuan dalam pengembangan pertanian ke depan.

B. Peta Zona Agro-Ekologi Skala 1:250.000

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian dari Kementerian Pertanian RI telah menerbitkan peta ZAE Skala 1:1.000.000 dan Peta ZAE Skala 1:250.000 pada awal 1990-an. Peta skala 1:1000.000 dibuat untuk Pulau Sumatera sedangkan skala 1:250.000 berbasis propinsi. Peta-peta tersebut masih dibuat secara manual yang bersumber dari data peta tanah tinjau (skala 1:250.000 ). Penyusunan peta tersebut dalam rangka memberikan bahan pertimbangan pengambilan kebijakan pembangunan pertanian. Salah satu alternatif penyajian informasi geospasial adalah dengan pendekatan zona agro-ekologi yang mengintegrasikan data tanah, iklim dan terrain ( Amien, 1998).
Awal tahun 2000-an Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian melanjutkan penyusunan peta ZAE Skala 1:250.000 untuk Pulau Sulawesi dan Maluku. Pada periode tersebut penyusunan peta telah memanfaatkan teknologi SIG/Sistem Informasi Geeografis (GIS/Geographic Information System) dan penambahan data tanah baru. Peta yang disusun sama dengan metode sebelumnya masih mengandung informasi umum. Sedangkan untuk Pulau Kalimantan dan Papua peta ZAE disusun pada tahun 2010. Pada kali ini ada sedikit modifikasi dan penyempurnaan dalam pengolahan data, yaitu dilakukan secara otomatis menggunakan Modul ZAE 2010. Dengan modul tersebut pengelompokan zona agro-ekologi tersusun dengan konsisten dan dapat dikorelasikan antara provinsi di Papua dan Kalimantan (Bachri, 2010). Contoh Peta ZAE skala1:250.000 untuk Propinsi Bengkulu (Peta I) dapat dilihat pada Gambar 1.
Perkembangan selanjutnya pada tahun 2013, peta ZAE Skala 1:250.000 telah diperbaharui kembali untuk seluruh wilayah provinsi di Indonesia dengan menggunakan data/peta tanah tinjau terbaru, digital Shuttle Radar Topographic Mission/Digital Elevation Model (SRTM/DEM), dan peta dasar RBI digital yang seragam bersumber dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Peta ZAE edisi 2013 tersebut telah diterbitkan dalam bentuk atlas yang dilengkapi dengan penjelasan karakteristik lahannya (Hikmatullah dan Ritung, 2014).
Sebagai pembeda utama dalam menetapakan zonasi dalam peta ZAE skala 1:250.000 adalah lereng yang terbagi ke dalam 4 zona: Zona I (> 40%), Zona II (15-40%), Zona III (8-15%) dan Zona IV (< 8%). Pada lereng < 3% dengan jenis tanah: a). Gambut; b). Jenis tanah dengan kandungan garam atau sulfat tinggi; dan c). Jenis tanah yang berkembang dari pasir kuarsa dikelompokan ke dalam zona tersendiri, yaitu masing-masing sebagai Zona V, VI dan VII. Sedangkan lereng terjal/singkapan batuan dan danau/permukaan air dimasukan sebagai zona X. Zona IV untuk pengembangan tanaman pangan dibagi menjadi IV1 (berdrainase buruk untuk pengembagan sawah/pertanian lahan basah) dan IV2 (berdranase baik untuk pertanian lahan kering). Parameter penyusun peta ZAE skala 1:250.000 serta sistem pertanian (tipe pemanfaatan lahan) untuk selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 1 (Winardi et al., 2001).

Untuk membagi zona ke dalam subzona agro-ekologi digunakan kondisi iklim. Rezim suhu diduga dengan elevasi atau ketinggian tempat dari permukaan laut/dpl. Pada dataran rendah (0-700 m dpl) terdapat rezim suhu panas (isohypertermic) dan pada pada dataran tinggi (>700 m dpl) terdapat rezim suhu sejuk (isothermic). Rezim kelembaban diduga dengan panjang bulan kering per tahun. Wilayah degan bulan kering diatas 6 termauk wilayah kering, antara 4-6 termasuk agak kering dan kurang dari 3 termasuk lembab. Berdasar kondisi iklim tersebut wilayah dapat dibagi menjadi 6 subzona agro-ekologi sebagai berikut: 1). Wilayah beriklim lembab dataran rendah (simbol ax) 2). Wilayah beriklim lembab dataran tinggi (bx); 3). Wilayah beriklim agak kering dataran rendah (ay); 4). Wilayah agak kering dataran tinggi (by); 5).Wilayah beriklim kering dataran rendah (az); daan 6). Wilayah beriklim kering dataran tinggi (bz) (Winardi et al., 2001).
Peta ZAE skala 1:250.000 yang disusun berdasarkan data lereng dan iklim tersebut menghasilkan berbagai subzona. Masing-masing subzona dapat ditentukan kesesuaian lahannya sehingga bisa ditetapkan sistem pertanian dan alternatif komoditasnya. Dengan overlay (tumpangtepat) peta ZAE dengan peta administrasi (termasuk informasi sosial ekonomi, budaya, kebijakan pemerintah) dan peta penggunaan lahan eksisting dapat dibuat rekomendasi terhadap sistem pertanian dan komoditas yang ada.
Apabila penggunaan lahan sesuai dengan anjuran agro-ekologi maka rekomendasi yang diberikan adalah intensifikasi (simbol i).  Apabila penggunaan lahan melebihi kemampuan lahan maka rekomendasi yang diberikan adalah rehabilitasi (r). Sedangkan apabila lahan dipergunakan dibawah kemampuannya maka rekomendasi yang diberiakan adalah ekstensifikasi (e). Simbol rekomendasi (i, r, e) akan melengkapi notasi dari subzona agro-ekologi. Cara membaca subzona yang sudah dilengkapi rekomendasi dikemukakan ilustrasi subzona IVax1.e (dalam Tabel 2). IV=Wilayah dengan kelas lereng < 8%, iklim lembab di dataran rendah, drainase buruk yang direkomendasikan untuk ekstensifikasi sawah/pertanian lahan basah (Winardi et al., 2001).

Posted on — Leave a comment

Pewilayahan Komoditas Pertanian Berdasarkan Zona Agroekologi (ZAE)

Oleh: Winardi Khatib

Ilustrasi pewilayahan komoditas pertanian

A. Pendahuluan

Pembangunan pertanian pada dasarnya adalah upaya untuk meningkatkan kualitas hidup petani yang dicapai melalui strategi investasi dan kebijakan pengembangan profesional dan produktivitas tenaga kerja pertanian, pengembangan prasarana dan sarana ekonomi, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi disertai dengan penataan dan pengembangan kelembagaan pedesaan. Namun pembangunan pertanian ke depan dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain pemenuhan kecukupan pangan, persaingan pasar global, penyediaan lapangan kerja dan peningkatan produktivitas angkatan kerja serta optimasi pemanfaatan dan pelestarian suberdaya alam yang ada (Amin, 1994).
Sejalan dengan pemikiran di atas maka penting untuk diupayakan bentuk pertanian yang berorientasi agribisnis yang mempunyai berbagai ciri, yaitu pertanian yang maju, tangguh, efisien dan berkelanjutan. Untuk mewujudkan pertanian yang dimaksud maka di setiap wilayah terutama tingkat kabupaten/kota dilakukan upaya penggunaan lahan secara optimal. Optimasi penggunaan lahan akan dapat dicacapai melalui alokasi penggunaan lahan yang tepat sekaligus melakukan pengendalian di dalam penggunaannya. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu terlebih dahulu dilakukan identifikasi dan karakterisasi sumberdaya lahan yang ada.
Meningkatnya kebutuhan lahan untuk berbagai keperluan termasuk untuk produksi bahan pangan, serat dan papan serta tekanan penduduk yang besar dalam pertumbuhan ekonomi dan industri berdampak timbulnya kompetisi penggunaan lahan di berbagai sektor termasuk sektor pertanian. Hal ini menekankan perlunya perencanaan dan pengelolaan sumberdaya lahan yang rasional dan berkelanjutan sesuai dengan daya dukungnya. Dengan demikian, informasi geospasial sumberdaya lahan yang akurat sangat diperlukan sebagai informasi dasar untuk mendukung perencanaan penggunaan lahan yang berkelanjutan, khususnya di sektor pertanian dan perkebunan.
Sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud apabila sumberdaya lahan dipergunakan untuk sistem pertanian yang tepat dengan cara pengelolaan yang sesuai. Apabila lahan tidak digunakan dengan tepat, produktivitas akan cepat menurun dan ekosistem menjadi terancam kerusakan. Penggunaan lahan yang tepat tidak hanya menjamin bahwa lahan memberi manfaat untuk pemakai masa kini tetapi juga menjamin bahwa sumberdaya lahan ini bermanfaat untuk generasi penerus di masa yang akan datang secara berkelanjutan (Amien 1994).
Sejak awal tahun tahun 2000-an Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanain telah menyusun peta Zona Agro-Ekologi (ZAE) yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi dan karakterisasi sumberdaya lahan pertanian pada skala 1:250.000 dan skala 1:50.000. Jenis peta yang pertama dimaksudkan untuk perencanaan wilayah yang lebih luas yaitu tingkat regional/propinsi. Sedangkan jenis peta kedua dimaksudkan untuk wilayah kabupaten/kota. Pendekatan ZAE dapat digunakan untuk perencanaan, pengelolaan dan monitoring sumberdaya lahan, seperti untuk inventarisasi potensi sumberdaya lahan, inventarisasi tipe penggunaan lahan (land utilization type), sistem produksi, kesesuaian lahan, evaluasi produktivitas lahan dan lain-lain.
Tulisan ini adalah upaya penulis dalam hal: a) Memperkenalkan peta pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan ZAE; b). Menyampaikan pengalaman penulis dalam penyusunan dan penggunaan peta ZAE; dan c). Menyampaikan prosedur penyusunan peta ZAE secara ringkas. Harapan penulis semoga konsep pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan Zona Agro-Ekologi bisa menjadi acuan dalam pengembangan pertanian ke depan.

Baca juga: Mengenal Peta Zona Agro-Ekologi (ZAE)

B. Konsep Zona Agro-Ekologi

Zona Agro-Ekologi didefinisikan sebagai pembagian wilayah ke dalam zona-zona berdasarkan kemiripan (similarity) karakteristik iklim, terrain dan tanah yang memberikan keragaan tanaman tidak berbeda secara nyata. Tiga parameter utama yang digunakan dalam penyusunan peta ZAE adalah iklim, terrain dan tanah. Konsep ZAE pertama kali diperkenalkan oleh FAO sekitar tahun 1978 yang menerapkan evaluasi lahan di Afrika dengan menggunakan Peta Tanah FAO 1974 skala 1:5.000.000 sebagai sumber data. Metode penyusunan peta menggunakan parameter panjang periode tumbuh (length of growing period) dan suhu. Selanjutnya FAO merekomendasikan penggunaan peta ZAE pada tingkat nasional dan provinsi pada skala 1:1.000.000-1:500.000 (Anonymous, 2001).
Di Indonesia, peta ZAE yang pertama disusun adalah untuk Pulau Sumatera dan P. Jawa berdasarkan data peta tanah tingkat tinjau skala 1:250.000 untuk menentukan sistem pertanian dan kelompok tanaman. Delineasi zona pada peta ZAE tersebut didasarkan pada kelas lereng (untuk tingkat zona), rezim suhu tanah dan rezim kelembaban tanah (untuk tingkat subzona). Selanjutnya data tiap-tiap subzona agro-ekologi diinterpretasi ke dalam Sistem Pakar (Expert System). Peta tersebut bermanfaat sebagai acuan dasar perencanaan pembangunan sektor pertanian tingkat nasional dan regional (Amin, 1986; 1998).
Untuk tujuan operasional, peta ZAE perlu ditindaklanjuti dengan penyusunan peta semi detil berskala 1:50.000 atau lebih besar. Penyusunan peta ZAE skala 1:50.000 atau lebih besar dirasa mendesak di Indonesia. Pertama, peta tersebut dibutuhkan dalam pembangunan pertanian, misalnya untuk digunakan oleh BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) se Indonesia dalam mengembangkan pertanian di setiap propinsi. Kedua, penyusunan peta ZAE skala 1:50.000 merupakan jawaban untuk melengkapi peta-peta di wilayah atau propinsi yang belum lengkap data tanahnya. Penyusunan Peta ZAE pada dasarnya menggunakan metode yang lebih murah, cepat dan efisien dibandingkan dengan penyusunan peta-peta sumberdaya lahan tingkat semi detil (skala 1:50.000).
Pendekatan penyusunan peta ZAE skala 1:50.000 bisa menggunakan analisis terrain dari foto udara, peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) atau citra satelit yang akan menghasilkan peta satuan lahan (Anonymous, 2001). Selain itu pedekatan penyusunan peta ZAE skala 1:50.000 juga bisa dilakukan dengan pendetilan peta tanah tinjau (skala 1:250.000) yang dikeluarkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Pendetilan dilakukan dengan teknik overlay (tumpangtepat) dengan berbagai jenis peta tematik, seperti peta RBI, peta DEM (Digital Elevation Model ), peta geologi dan citra satelit (Anonymous, 2013; Sulaeman dan Mulyani, 2014).
Peta satuan lahan skala 1:50.000, baik yang diperoleh dari analisis terrain maupun pendetilan peta tanah tinjau digunakan sebagai peta analisis dalam proses penyusunan peta pewilayahan komoditas. Peta yang telah diverifikasi di lapangan, dilengkapi dengan data evaluasi lahan, kemudian diintegrasikan dengan data kelayakan uasahatani, komoditas unggulan daerah dan dikoreksi dengan peta penggunnan lahan sekarang (present landuse) akan menghasilkan peta ZAE Skala 1:50.000. Peta tersebut lebih dikenal dengan nama Peta Pewilayahan Komoditas Pertanian. Peta yang dimaksud tidak hanya bermanfaat bagi kalangan Kementerian Pertanian tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh Pemda kabupaten/kota dalam merancang tata ruang atau pembangunan sektor pertanain di wilayahnya.

Baca juga: Peyusunan Peta Perwilayahan Komoditas Pertanian

Posted on — Leave a comment

Manfaat Tanaman Bagi Kecantikan Kulit Wajah

Oleh: Umi Riadatul Munasaroh

Perlu kita ketahui bahwa tanaman tidak hanya bisa dijadikan sebagai hiasan rumah atau bahan masakan saja, namun, ada beberapa jenis tanaman yang bisa kita gunakan untuk dijadikan perawatan kulit wajah.
Ada beberapa jenis tumbuhan yang memiliki kandungan baik untuk kesehatan kulit wajah kita. Maka dari itu, kandungan dalam produk skincare terdapat beberapa jenis bunga dan tanaman di dalamnya,
Penasaran dengan jenis tanaman yang bermanfaat bagi kulit wajah ini? Yuk, langsung simak artikel di bawah ini agar pemahaman kita terkait tumbuhan makin luas.
1. Kemangi
Kemangi merupakan salah satu tumbuhan yang bisa membantu mencegah tanda-tanda penuaan pada wajah kita karena paparan sinar matahari yang berlebihan bisa merusak kulit dan menyebabkan penipisan pada kolagen.
Kita tentu harus tahu bahwa merendam daun kemangi dengan air hangat untuk melembutkannya dan membuat pastanya lebih kental. Cara membuatnya sangat mudah dengan campurkan tepung gram dan madu lalu bisa langsung dioleskan pada wajah kita. Tunggu beberapa saat hingga kering dan bisa langsung dibilas dengan air dingin atau air hangat.
2. Jahe
Jahe merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki kandungan antioksidan dan anti inflamasi yang sangat tinggi hingga mampu mencegah tanda-tanda penuaan pada kulit wajah.
Nah, perlu kita ketahui juga bahwa menyiapkan parutan jahe, gula merah, dan minyak zaitun saja bisa membuat kulit wajah semakin kencang dan sehat tentunya.
Cara pembuatannya cukup mudah hanya dengan mencampurkan semua bahan tadi dan oleskan pada wajah kita selama kurang lebih 10 menit setelah itu bisa langsung bilas saja.
3. Cengkih
Pasti kita semua sudah paham kalau cengkih merupakan salah satu tumbuhan yang sering dijadikan sebagai pengobatan tradisional Ayurveda untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Tumbuhan satu ini memang mengandung sifat antioksidan yang bisa membantu memperlambat tanda-tanda penuaan pada wajah.
Maka dari itu, cengkih menjadi tanaman yang sangat sering kita dengar saat membahas terkait pengobatan, seperti, pengobatan tubuh hingga pengobatan wajah.
4. Gingseng
Gingseng merupakan salah satu ramuan obat Cina yang paling populer di seluruh dunia karena manfaat anti penuaannya ini. Cara pembuatan obat satu ini sangat mudah hanya dengan menggunakan satu sendok the bubuk ginseng dengan secangkir air hangat saja dengan dibantu kapas.
Setelah selesai pembuatannya bisa langsung oleskan pada wajah saja dan biarkan semalaman agar meresap di wajah dengan sempurna, setelah itu bisa langsung bersihkan dipagi hari. Wajah akan makin sehat dan bersih.
5. Kayu Manis
Biasanya kayu manis dijadikan sebagai bahan pembuatan minuman atau makanan tapi kali ini bakalan berbeda karena satu ini bisa untuk kesehatam kulit ini.
Kayu manis merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki manfaat anti penuaan karena bisa mencegah kerusakan kolagen pada wajah dan juga bisa menghilangkan elastisitas kulit.
Cara pembuatannya sangat simpel cukup menyiapkan kayu manis dan bubuk hingga halus, lalu campurkan dengan madu dan oleskan pada wajah, cukup didiamkan selama kurang lebih 10 saja dan bilas dengan air bersih.

Posted on — 1 Comment

Menyiapkan Postingan untuk Situs web WordPress

Oleh: Winardi Khatib

Pendahuluan

Tutorial ini merupakan pengalaman penulis sendiri, baik berasal dari bahan bacaan maupun praktek secara mandiri. Semua yang disampaikan berupa pemahaman yang penulis dapatkan selama menggunakan situsweb berjudul WinardiVision  atau dengan nama domain winardivision.org.

Sasaran tutorial adalah pengguna baru aplikasi WordPress yang belum memahami seluk beluk website atau blog dengan baik. Sekaligus contoh-contoh yang diberikan berkaitan dengan website tersebut di atas. Penulis berusaha memberi pengertian kepada pengguna karena mungkin mempunyai latar belakang yang berbeda. Penulispun berusaha menggunakan bahasa yang sederhana.

Sebelum sampai tutorial kita singgung dulu kaitan antara postingan, laman, kategori dan menu. Dengan memahami pengertian dan keterkaitannya akan memudahkan bagi pemula untuk mengikuti tutorial untuk keempat komponen tersebut.

Website secara garis besar terdiri dua komponen utama, yaitu postingan (artikel) dan laman (halaman). Postingan (artikel) adalah hal yang pokok di dalam suatu website. Artinya postingan itulah yang sengaja disampaikan oleh admin/penulis untuk kebutuhan pembaca/pengunjung website. Postingan ini bersifat dinamis yaitu tergantung kronologi waktu. Ada postingan yang cepat  habis kadaluarsanya, misalnya berita. Namun ada posting relatif bertahan lama, misalnya postingan tentang tutorial atau bersifat ilmiah. Selagi metode belum berubah maka postingan yang disebut kemudian masih relevan untuk jangka relatif lama. Laman atau bagian yang memuat postingan ini bisa disebut Blog atau tergantung kepada yang memiliki website yang disesuaikan dengan bidang (niche) website.

Untuk masuk atau melihat postingan dalam suatu Website terlebih dahulu kita masuk dengan menulis judul situs, alamat URL atau nama domain di bawah Google. Bagian pertama yang terbuka disebut laman depan atau beranda. Nah di beranda ini tersedia menu yang bisa membuka halaman postingan. Contoh untuk masuk website penulis, anda bisa menuliskan judul situs: Blog Winardi, alamat URL: https://winardivision.org atau nama domain: winardivision.org.

Postingan adakalanya dirinci lagi menjadi beberapa Kategori. Tujuan pembagaian atas beberapa kategori tersebut adalah untuk memudahkan pencarian artikel oleh pembaca. Dengan menelusuri kategori tertentu pembaca berpeluang menemukan artikel yang dicari lebih cepat. Kategori yang disarankan berkisar 4-7 kategori. Sebagai contoh, anda akan melihat bahwa sebagai induk postingan penulis menggunakan istilah Blog. Selanjutnya induk tersebut dibagi atas beberapa kategori, yaitu: Budidaya Tanaman, Prasarana Sarana Produksi, Teknologi Pertanian, Sosial Ekonomi, Lingkungan, dan Non Kategori.

Berbeda dengan postingan, laman merupakan bagian yang berfungsi untuk menjelaskan tentang website. Laman isinya bersifat statis. Artinya isi halaman tersebut tidak akan banyak perubahan. Perubahan hanya akan dilakukan misalnya kalau ada hal-hal baru yang akan disampaikan oleh admin. Untuk website yang paling sederhana biasanya mempunyai 3 bentuk laman sesuai dengan fungsinya, yaitu: laman Beranda, Tentang dan Kontak. Catatan, didalam website istilah laman sama saja dengan halaman.

Laman depan yang sering ditandai dengan Beranda (Home) adalah laman depan atau awal yang ditemukan pada waktu kita mengunjungi/membuka suatu website atau blog. Laman ini berguna misalnya untuk memuat ucapan selamat datang atau penjelasan tentang artikekel apa saja di dalam website atau blog kepada pengunjung. Laman ini dibuka dengan judul situs, alamat URL atau naman domain, seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Baca juga: Penyiapan Laman untuk Situs Web Word Press

Laman kedua yaitu laman untuk memberi penjelasan, misalnya deskripsi website atau profil admin/penulis. Laman ini biasanya diberi judul Tentang (About). Selanjutnya laman ketiga yaitu laman yang biasanya memberitahukan bagaimana pengunjung bisa menghubungi penulis/admin. Jadi pada halaman bentuk ketiga tersebut dapat tercantum nomor telpon/WA, email, akun media sosial dan lain-lain. Laman bentuk yang terakhir tersebut biasa diberi judul Kontak (Contact). Untuk masuk laman Tentang atau Kontak kita bisa menggunakan menu yang ada pada setiap laman karena terhubung oleh tautan (link).

Sedikit disinggung pula mengenai menu dan susunannya. Menu merupakan kunci yang bisa kita gunakan untuk berpindah dari satu laman ke laman lain dalam suatu website. Menu terdiri dari menu primer dan menu sekunder. Dalam hal ini kita berfokus untuk menu primer saja. Menu ini biasanya terletak pada bagian atas laman website.

Untuk website yang sederhana biasanya memiliki 4 komponen menu ( 3 untuk halaman dan 1 untuk menu postingan). Khusus untuk postingan, menu dapat dibagi lagi atas beberapa sub menu.  Menu laman digunakan untuk membuka laman dan menu postingan untuk membuka laman induk  (Blog, Website). Sedangkan sub menu digunakan untuk membuka kategori. Di bawah setiap kategoripun bisa pula dicantumkan judul-judul artikel.

Perlu dijelaskan bahwa dalam kasus website yang dijadikan contoh, penulis tidak menggunakan kategori di bawah Website sebagai induk tetapi menggunakan sub laman yang jumlah dan namanya sama dengan kategori. Apa beda menggunakan kategori dengan sub laman di bawah induk (Blog, Website) ? Jawabannya, apabila menggunakan kategori maka halaman langsung terisi oleh postingan-postingan yang sekategori sewaktu kita membuat berbagai postingan. Sedangkan dengan menggunakan sub laman, halaman yang muncul kosong. Dengan cara kedua ini kita bisa misalnya membuat judul-judul postingan saja, yaitu dengan cara mengentri baik teks dan gambar/media.

Baca juga: Penyiapan Kategori untuk Situs Web Word Press

Menyiapkan Postingan 

Untuk bekerja sebagai admin kita harus bekerja dibawah menu Dasbor. Untuk itu kita masuk blog melalui alamat URL admin, contoh untuk web di atas: https://winardivision.org/wp-admin/ untuk website milik penulis. Tentu saja bagi pengunjung seperti anda tidak bisa menggunakan alamat ini tetapi bisa melalui judul situs: Blog Winardi, alamat URL: https://winardivision.org atau nama domain: winardivision.org. Langkah-langkah menyiapkan postingan adalah sebagai berikut:

1. Temukan menu Pos di di bawah dasbor

2. Klik menu Tambah Baru

3. Beri judul laman pos sesuai artikel yang telah kita siapkan. Misalnya seperti salah satu judul dalam postingan penulis, yaitu: Tanaman Vanili dan Budidaya.

4. Tambahkan konten atau isi pos dengan teks atau gambar/media. Kalau belum siap biarkan saja kosong terlebih dahulu nanti diisi pada waktu mengedit.

5. Pada kolom Kategori isikan kategori yang sesuai judul. Contoh di website penulis, kategori yang sesuai adalah Budidaya Tanaman.

6. Pada kolom Tag isikan tag yang sesuai. Contoh untuk judul di atas tag yang sesuai adalah Tanaman Perkebunan. Jadi tag mirip dengan kategori tetapi tidak sama. Didalam website penulis, judul seperti diatas akan bisa ditelusuri melalui kategori (Budidaya Tanaman) dilain pihak akan bisa juga ditelusuri melalui tag (Tanaman Perkebunan). Penetapan nama tag tergantung kepada pengetahuan atau wawasan dari yng punya website itu sendiri.

7. Publikasikan pos melalui menu Terbitkan atau simpan melalui menu Simpan Draft.

Selanjutnya bisa kita periksa atau edit pos yang telah kita buat. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Temukan kembali menu Pos di bawah dasbor

2. Klik menu Semua Pos. Akan muncul daftar pos-pos yang telah kita siapkan.

3. Arahkan kursor ke nama pos. Akan ada pilihan menu Sunting untuk menyunting konten pos yang telah dikerjakan. Ada pula menu Edit cepat untuk melengkapi data/deskripsi pos. Selain itu ada pula menu Tampil untuk menayangkan pos dan menu Tong Sampah untuk menghapus pos.

Baca juga: Penyiapan Menu untuk Situs Web Word Press

Demikianlah menyiapkan pos dalam suatu website. Setelah pos ini akan ada penjelasan dalam menyiapkan laman, kategori dan menu. Dengan menguasai empat pengetahuan dasar ini akan memudahkan anda bekerja dalam WordPress.

Posted on

Menyiapkan Laman untuk Situs Web WordPress

Oleh: Winardi Khatib

Pendahuluan

Tutorial ini merupakan pengalaman penulis sendiri, baik berasal dari bahan bacaan maupun praktek secara mandiri. Semua yang disampaikan berupa pemahaman yang penulis dapatkan selama menggunakan website dengan judul situs Blog Winardi atau dengan nama domain winardivision.org.

Sasaran tutorial adalah pengguna baru aplikasi WordPress yang belum memahami seluk beluk website atau blog dengan baik. Sekaligus contoh-contoh yang akan diberikan berkaitan dengan website tersebut di atas. Penulis berusaha memberi pengertian kepada pengguna karena mungkin mempunyai latar belakang yang berbeda. Penulispun berusaha menggunakan bahasa yang sederhana.

Sebelum sampai tutorial kita singgung dulu kaitan antara laman, postingan, kategori dan menu. Dengan memahami pengertian dan keterkaitannya akan memudahkan bagi pemula untuk mengikuti tutorial untuk keempat komponen tersebut.

Website secara garis besar terdiri dua komponen utama, yaitu laman (halaman) dan postingan (artikel). Laman adalah bagian website yang bersifat statis. Artinya isi halaman tersebut berupa informasi atau penjelasan mengenai website yang tidak perlu banyak perubahan. Perubahan hanya akan dilakukan misalnya kalau ada hal-hal baru yang akan disampaikan oleh admin. Catatan, didalam website istilah laman sama saja dengan halaman.

Untuk website yang paling sederhana biasanya mempunyai 3 bentuk laman sesuai dengan fungsinya. Pertama, laman Beranda/Depan  (Home Page). Laman Beranda adalah laman awal yang ditemukan pada waktu kita mengunjungi/membuka suatu website atau blog. Laman Home berguna untuk misalnya memuat ucapan selamat datang atau penjelasan tentang artikekel apa saja di dalam website atau blog kepada pengunjung. Laman ini biasanya diberi judul Beranda (Home).

Laman Depan ini bisa dibuka dengan menulis judul situs website,  nama domain atau alamat URL. Alamat URL yaitu dengan tambahan https:// di depan nama domain. Kita contohkan saja untuk mengunjungi website milik penulis, silahkan menulis di bawah Google judul situs: Website Winardi atau alamat nama domain: winarditaniinfo.com. Kalau jaringan internet tidak bermasalah maka anda akan menemukannya.

Baca juga: Penyiapan Postingan untuk Situs Web Word Press

Laman kedua yaitu laman untuk memberi penjelasan, misalnya deskripsi website atau profil admin/penulis. Laman ini biasanya diberi judul Tentang (About). Selanjutnya laman ketiga yaitu laman yang biasanya memberitahukan bagaimana pengunjung bisa menghubungi penulis/admin. Jadi pada halaman bentuk ketiga tersebut dapat tercantum nomor telpon/WA, email, akun media sosial dan lain-lain. Laman bentuk yang terakhir tersebut biasa diberi judul Kontak (Contact). Untuk masuk laman Tentang atau Kontak kita bisa menggunakan menu yang ada pada setiap laman karena terhubung oleh tautan (link).

Postingan (artikel) adalah hal yang pokok atau isi dari suatu website. Artinya postingan itulah yang sengaja disampaikan oleh admin/penulis untuk kebutuhan pembaca/pengunjung website. Postingan ini bersifat dinamis yaitu tergantung kronologi waktu. Ada postingan yang cepat  habis kadaluarsanya, misalnya berita harian, mingguan dan sebagainya. Namun ada pula posting relatif bertahan lama, misalnya postingan tentang tutorial atau yang bersifat ilmiah. Selagi metode belum berubah maka postingan yang disebut kemudian masih relevan untuk jangka relatif lama. Laman yang menampung postingan ini bisa disebut Blog atau tergantung kepada yang memiliki website yang disesuaikan dengan bidang (niche) website.

Postingan adakalanya dirinci lagi menjadi beberapa Kategori. Tujuan pembagaian atas beberapa kategori tersebut adalah untuk memudahkan pencarian artikel oleh pembaca. Dengan menelusuri kategori tertentu pembaca berpeluang menemukan artikel yang dicari lebih cepat. Kategori yang disarankan berkisar 4-7 kategori. Untuk  masuk ke postingan, seperti telah dijelaskan di atas bisa melalui menu yang tercantum di setiap laman website. 

Sebelumnya penulis telah memberikan contoh bagaimana masuk ke laman Beranda, laman Tentang dan laman Kontak. Sekarang silahkan masuk ke postingan dari laman mana saja dengan menggunakan menu. Kalau sudah berhasil, anda akan  menemukan bahwa penulis memberi judul laman postingan dengan nama Blog. Postingan  tersebut terbagi atas 6 kategori, yaitu: Budidaya Tanaman, Prasarana Sarana Produksi, Teknologi Pertanian, Sosial Ekonomi, Lingkungan, dan Non Kategori.

Sedikit disinggung pula mengenai menu dan susunannya. Menu merupakan kunci yang bisa kita gunakan untuk berpindah dari satu laman ke laman lain dalam suatu website. Menu terdiri dari menu primer dan menu sekunder. Dalam hal ini kita berfokus untuk menu primer saja. Menu ini biasanya terletak pada bagian atas laman website.

Untuk website yang sederhana biasanya memiliki 4 komponen menu ( 3 untuk halaman dan 1 untuk menu postingan). Khusus untuk postingan, menu dapat dibagi lagi atas beberapa sub menu.  Menu laman digunakan untuk membuka laman dan menu postingan untuk membuka laman induk  (Blog, Website). Sedangkan sub menu digunakan untuk membuka kategori. Di bawah setiap kategoripun bisa pula dicantumkan judul-judul artikel.

Perlu dijelaskan bahwa dalam kasus website yang dijadikan contoh, penulis tidak menggunakan kategori di bawah Website sebagai induk tetapi menggunakan sub laman yang jumlah dan namanya sama dengan kategori. Apa beda menggunakan kategori dengan sub laman di bawah induk (Blog, Website) ? Jawabannya, apabila menggunakan kategori maka halaman langsung terisi oleh postingan-postingan yang sekategori sewaktu kita membuat berbagai postingan. Sedangkan dengan menggunakan sub laman, halaman yang muncul kosong. Dengan cara kedua ini kita bisa misalnya membuat judul-judul postingan saja, yaitu dengan cara mengentri baik teks dan gambar/media.

Baca juga: Penyiapan Kategori untuk Situs Web Word Press

Menyiapkan Laman.

Untuk bekerja sebagai admin kita harus bekerja dibawah menu Dasbor. Untuk itu kita masuk website melalui alamat URL admin, contoh untuk web di atas adalah https://winardivision.org/wp-admin/. Tentu saja bagi pengunjung seperti anda tidak bisa menggunakan alamat ini tetapi bisa melalui judul situs: Blog Winardi, alamat URL: https://winardivision.org atau nama domain: winardivision. Langkah-langkah menyiapkan laman adalah sebagai berikut:

1. Temukan menu Laman di bawah dasbor

2. Klik menu Tambah Baru

3. Beri judul laman , misalnya Beranda atau yang lainnya sesuai keinginan anda. Dalam pembuatam judul laman ada kololm Slug yang perlu diisi. Misalnya untuk judul laman Budidaya Tanaman maka dalam kolom Slug diisi: budidaya-tanaman (semua huruf kecil dan antar suku kata diberi tandap hubung).

4. Tambahkan konten atau isi laman dengan teks atau gambar/media. Kalau belum siap biarkan saja kosong terlebih dahulu nanti diisi pada waktu mengedit.

5. Publikasikan melalui menu Terbitkan atau simpan melalui menu Simpan Draft.

Buatlah laman sebanyak yang telah direncanakan sesuai langkah-langkah diatas. Kalau dalam contoh website diatas adalah total 9 laman. Kalau sudah siap seluruh laman maka untuk pemeriksaannya (edit) dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Kembali ke menu Laman

2. Klik menu Semua Laman. Daftar seluruh laman akan muncul

3. Arahkan kursor ke nama laman. Akan muncul menu Sunting untuk menyunting konten laman. Ada pula pilihan menu Edit cepat untuk melengkapi data/deskripsi laman. Selain itu ada pula pilihan menu Tampil untuk menayangkan laman dan menu Tong Sampah untuk menghapus laman.

Baca juga: Penyiapan Menu untuk Situs Web Word Press

Demikianlah menyiapkan laman dalam suatu website. Setelah laman ini akan ada penjelasan dalam penyiapan postingan, kategori dan menu. Dengan menguasai empat pengetahuan dasar ini akan memudahkan anda bekerja dalam WordPress.

Posted on

Otobiografi Winardi Khatib

Oleh: Winardi Khatib

A. Masa Kecil dan Sekolah Dasar

Saya lahir pada tanggal 19 September 1953 di Nagari (Desa) Koto Tangah Simalanggang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Sedangkan kampung saya adalah Taeh Bukit yakni desa tetangga dari tempat saya lahir.

Bapak saya bernama Ali Khatib gelar Dt. Rajo nan Panjang. Bapak saya bekerja sebagai guru Sekolah Rakyat (SR) yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Dasar (SD). Sedangkan ibu saya adalah wanita biasa yang tinggal di desa tersebut. 

Dari satu bapak dan satu ibu, saya adalah 6 bersaudara, lima orang laki-laki dan satu orang perempuan. Sedangkan dari pihak ibu yang lain (isteri ke 2 bapak) saya mempunyai 6 orang saudara lagi, 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan.

Saya masuk SD pada Tahun Ajaran 1960/1961 di Taeh Bukit. Sekolah tersebut sejatinya berupa bangunan darurat yang didirikan begitu suasana konfrontrasi reda antara PRRI dengan Pemerintah RI. Pada saat kenaikan kelas 4 barulah sekolah kami pindah ke lokasi yang lebih permanen. Saya lulus ujian akhir pada tahun 1966.

Selain belajar di sekolah, saya juga ikut bergaul dengan teman sebaya serta membantu orang tua dalam pekerjaan sehari-hari. Jenis permainan yang diikuti dengan teman sepermainan, misalnya: pantak lele,  siguliak, bodia-bodia botuang dan sipak bola limau (semuanya nama setempat).

Dalam membantu orang tua yang biasa dikerjakan adalah mengembalakan ternak kerbau. Pekerjaan ini dilakoni sepulang dari sekolah hingga magrib menjelang. Untuk menghindari terik panas matahari atau hujan kita perlu memakai tudung pandan yang cukup lebar.

Ilustrasi anak gembala (kibrispdr.org).

Kegiatan lain yang tak kalah pentingnya adalah belajar mengaji Al Qur’an. Kegiatan ini dilakukan pada malam hari. Tempatnya bisa di surau (mushola) atau di rumah pribadi orang yang bisa mengajarkan Al Quran.

B. Sekolah Menengah di Payakumbuh 

Pada tahun 1967 saya masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Payakumbuh. Sekolah tersebut berlokasi di Kenagarian Koto nan Gadang sekitar 3 km dari pusat kota. Kota Payakumbuh sendiri berjarak sekitar 15 km dari kampungku.

Untuk keperluan ini saya harus pindah ke Kota Payakumbuh. Pada awalnya saya kos rumah bersama kakak laki-laki tertua. Dari tempat tinggal ke sekolah sekitar 3 km ditempuh hanya dengan berjalan kaki pagi dan siang. Tidak ada angkutan umum yang tersedia pada waktu itu.

Gedung SMP Negeri 2 sekarang (dulunya adalah SMP Negeri 3 Payakumbuh).

Banyak teman baru yang dijumpai di sekolah ini. Mereka berasal dari berbagai pelosok di Kabupaten Limapuluh Kota. Hal tersebut disebabkan masih terbatasnya sekolah menengah, seperti SMP dan SMA di wilayah ini.

Salah satu kegiatan sekolah yang masih membekas pada ingatan saya bahwa pada setiap Jumat pagi, pelajar diwajibkan membawa 2 buah tempurung (batok) kelapa. Tempurung tersebut dikumpulkan kemudian dibakar dalam lobang yang disiapkan untuk menghasilkan arang batok kelapa. Bagi yang tidak membawa siap-siap saja dapat hukuman dari guru yang terkenal disiplin, seperti Bapak Anis Durin atau Bapak Darmis.

Setamat SMP pada Tahun 1969 saya langsung masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Payakumbuh pada Tahun 1970. Sekolah tersebut adalah satu-satunya SMA yang ada dalam kota yang lokasinya berseberangan jalan dengan Makam Pahlawan di kawasan Labuh Basilang. Untuk mengikuti pendidikan ini saya kos rumah yang tidak terlalu jauh dari sekolah.

Setiap akhir minggu, pada hari Sabtu biasanya saya pulang kampung guna mengambil bekal sehari-hari. Jenis kendaraan yang biasa ditumpangi adalah bendi (delman). Untuk itu biasanya harus membuat janji dengan kusirnya terlebih dahulu. Bendi yang sering ditumpangi adalah bendi pak Munab karena sudah akrab dengannya.

Tidak banyak waktu yang bisa di gunakan untuk beristirahat di kampung. Biasanya sampai di kampung malam haripun tiba. Besok siangnya sudah harus bergegas untuk kembali ke Payakumbuh. Hal tersebut disebabkan terbatasnya kendaraan yang bisa ditumpangi.

Selain kendaraan yang terbatas juga tidak memadainya kondisi jalan menuju kampungku. Adapun desaku pada waktu itu tergolong desa terisolir. Dari Payakumbuh kita bisa menggunakan kendaraan hanya sampai desa Taeh Baruh.

Dari Taeh Baruh hendak menuju ke Taeh Bukit, pertama harus menyeberang Batang Sinamar dengan titian betungnya. Setelah itu melintasi pematang sawah sekitar 1,5 km jauhnya. Perjalanan masih dilanjutkan melalui jalan setapak di daerah perbukitan sekitar 2,5 km lagi.

Seperti dari SD hingga SMP saya tidak pernah tertinggal kelas demikian juga halnya di SMA. Pada tahun 1972 saya lulus dari SMA.

C. Kuliah pada Fakultas Pertanian, UNAND

Pada tahun 973 saya masuk Fakultas Pertanian, Universitas Andalas di Padang. Ada 80 an orang teman baru yang dijumpai di fakultas ini. Sebelum memulai perkuliahan mahasiswa baru diharuskan mengikuti POSMA (Pekan Orientasi Studi Mahasiswa).

Secara ringkas tujuan POSMA untuk mengenalkan kepada mahasiswa akan kehidupan kampus serta membentuk kepribadian yang lebih mandiri. Cuma saja dalam pelaksanaannya even ini sering dimanfaatkan untuk hura-hura bagi sebagian mahasiswa senior.  Menurutku hal tersebut berpotensi menimbulkan kekerasan fisik maupun psikis.

Selama kuliah saya tinggal di Ulak Karang lebih kurang 2 km dari kampus Air Tawar. Kendaraan yang bisa ditumpangi adalah angkutan kota dengan nama Mini City Expres yang lazim disebut dengan City Expres saja.

Mahasiswa terdiri atas lima tingkat, yaitu tingkat 1, 2, 3, 4 dan 5. Tingkat 1 sampai dengan 3 merupakan masa perkuliahan umum yang diikuti seluruh mahasiswa. Tingkat 4 adalah tingkat dimana mahasiswa mengikuti perkuliahan berdasarkan jurusannya. Sedangkan tingkat 5 adalah masa penyusunan thesis dan penelitian.

Pada akhir semester 2 setiap tahun selalu diadakan sidang pengumuman untuk kenaikan tingkat ke tingkat 2, 3 atau 4.  Momen-moment tersebut merupakan hal cukup menegangkan bagi mahasiswa. Adalah kepuasan tersendiri bagi yang langsung lulus (lulus pertama). Demikian juga bagi saya pribadi karena berhasil lulus pertama setiap kenaikan tingkat.

Bagi yang belum berhasil pada sidang pengumuman pertama akan diberikan ujian susulan untuk kemudian akan diumumkan lagi pada sidang pengumuman kedua. Bagi yang masih belum lulus juga maka diharuskan mengulang perkuliahan pada tahun berikutnya.

Naik ke tingkat 4 saya memilih jurusan Agronomi. Jurusan Agronomi termasuk jurusan yang digemari pada waktu itu. Yang menjadi salah satu kenangan bagi saya adalah diajaknya mahasiswa tingkat 4 untuk berdarmawisata ke Medan pada tahun 1976. Tujuan darmawisata adalah mengenalkan perkembangan pertanian, khususnya sektor perkebunan besar di sekitar kota Medan.

Sebelum melakukan penyusunan thesis dan pelaksanaan penelitian mahasiswa perlu mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN). KKN adalah cara mahasiswa untuk mengabdikan ilmu pengetahuan ditengah masyarakat. Saya waktu itu, tahun 1977 melaksanakan tugas KKN di Kenagarian Taluk, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan. 

Dalam penyusunan thesis dan penelitian saya dibimbing oleh Ibu Ir. Mastina Jalil (Pembimbing I) dan Ibu Ir. Nursinah Nurdin (Pembing II). Hanya saja sebelum penelitian Dosen Pembimbing I memberi tugas untuk melakukan studi lapangan terlebih dahulu. Hal tersebut menyebabkan tertundanya kemajuan penelitian thesis sekitar 1 tahun.

Saya melakukan penelitian tentang penggunaan pupuk nitrogen pada berbagai sistem tanam tanaman jagung. Penelitian dilakukan pada Kebun Percobaan Fakultas Pertanian di Payakumbuh, tahun 1979. Akhirnya saya lulus ujian Sarjana Pertanian dan diwisuda pada bulan Oktober 1980.

D. Bekerja dan Berumah Tangga

Selepas wisuda maka saya mulai mencoba untuk mencari tempat kerja. Ada dua instansi yang memanggil lamaran kerja, yaitu Bank Bumi Daya di Jakarta dan Lembaga Pusat Penelitian Pertanian (LP3) di Bandar Buat, Padang. LP3 merupakan instansi di bawah Kementerian Pertanian. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan bekerja di LP3.

Setelah memantapkan pekerjaan di LP3 dan tinggal di Padang maka selanjutnya timbul keinginan untuk membentuk rumah tangga. Dengan ikhtiar dan takdir dari Allah SWT maka saya berhasil menyunting gadis yang bernama Edis Suwarti pada tanggal 20 Mei 1982 di Payakumbuh.

Edis Suwarti lahir di Payakumbuh meskipun kedua orang tuanya berasal dari Bukittinggi. Sebelum menikah dengan saya, Edis Suwarti tinggal di Jakarta dalam menyelesaikan pendidikan Bidannya.

Lebih kurang satu tahun bekerja, saya diberi kesempatan untuk melanjutkan studi S-2 di Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB). Di IPB saya memilih jurusan Ilmu Tanah untuk didalami.

Salah satu yang menarik bagi saya di IPB adalah mengikuti mata kuliah Geo Kimia. Mata kuliah tersebut diasuh oleh Bapak Dr. Muhammad Weiss. Dalam kuliah lapangan mahasiswa sempat diajak berkeliling Propinsi Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk lebih memahami perkembangan ilmu tanah dari aspek geo kimia.

Selama studi di IPB saya dibimbing oleh tiga orang dosen, yaitu Bapak Dr. Ir. Lutfi Ibrahim Nasution (Dosen Pembimbing I), Bapak Dr. Ir Goeswono Supardi (Dosen Pembimbing II) dan Bapak Dr. Ir. Muhammad Satari (Dosen Penguji). Saya melakukan penelitian dengan topik penggunaan pupuk hijau pada tanah Podzolik Merah Kuning di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Penelitian berlangsung selama paruh awal tahun 1986.

Tepat pada tanggal 8 Agustus 1987 saya dan isteri beroleh Kurnia yang tak berhingga dari Allah SWT atas kelahiran putri kami di Bogor. Putri tersebut kami beri nama Arini Kurniadewi.  Selanjutnya pada tahun berikutnya saya berhasil merampungkan penulisan tesis dan lulus ujian S-2 pada tanggal 4 Juni 1988.

Saya kembali ke kantor di Sumatera Barat pada tahun 1989. Kali ini kantor tempat saya bekerja telah berubah nama menjadi Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan) yang berkantor pusat di Sukarami, Solok. Saya ditempatkan pada Sub Balai di Sitiung, Dharmasraya sebagai peneliti.

Disamping peneliti saya juga ditugaskan sebagai penanggung jawab laboratorium tanah dan tanaman serta koordinator peneliti dan teknisi. Selain itu saya juga terlibat sebagai peneliti kolaborasi dengan Lembaga Penelitian Padi Internasional (Internasional Rice Research Institute/IRRI).

Sehubungan kolaborasi dengan IRRI saya diberi kesempatan sebagai berikut: Tahun 1982, mengikuti pelatihan Budidaya Padi Berkelanjutan Berbasis Pengelolaan Kesuburan Tanah di Kantor Pusat IRRI (Filipina) selama 4 bulan; Tahun 1984, pelatihan analisis tanah di Laboratorium IRRI (Filipina) selama sebulan; dan Tahun 1988, mengikuti Simposium Padi Gogo (Chiang Mai, Thailand).

Pada tahun 2000 saya dipindahtugaskan sebagai tenaga detasir pada Instalasi Penelitian dan Pengkajian Tanaman Pangan (IPPTP) Bengkulu. IPPTP Bengkulu pada waktu itu merupakan bagian dari Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukarami.

Di IPPTP Bengkulu saya berkonsentrasi melakukan penelitian/pengkajian pewilayahan komoditas pertanian berdasarkan zona agroekologi. Zona Agroekologi (ZAE) atau dalam Bahasa Inggrisnya Agroecology Zone (AEZ). ZAE merupakan metode dalam mengidentifikasi wilayah menggunakan faktor biofisik (iklim dan tanah) serta ditunjang faktor sosial ekonomi untuk pewilayahan komoditas pertanian.

Saya ditarik kembali ke kantor pusat BPTP Sumbar di Sukarami Solok pada tahun 2004. Di BPTP Sumbar saya menjadi anggota dari Kelompok Peneliti Sumberdaya. Adapun yang menjadi konsentrasi dari penelitian/pengkajian saya adalah berkaitan dengan faktor iklim dan tanah. BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) merupakan perubahan dari Balai Penelitian Tanaman Pangan yang telah dikemukakan sebelumnya.

Saya sekeluarga pada tahun 2006 pindah tempat tinggal di Padang meskipun masih tetap bekerja di Sukarami. Buat sementara kami tingga di Perumahan Dinas Kesehatan karena isteri saya juga bekerja pada instansi tersebut. Barulah pada tahun 2009 kami menempati rumah sendiri di Kelurahan Bandar Buat, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang.

Rumah tempat tinggal saya di Bandar Buat, Padang.

Pada tahun 2011 saya berkesempatan melakukan ibadah Umrah ketanah suci Makkah dan Madinah. Pada kesempatan itu saya berangkat dengan ibunda Nilam. Alhamdulillah kami selamat dalam perjalanan pergi dan pulang.

Saya memasuki masa pensiun pada tahun 2018, yaitu setelah berdinas selama 38 tahun pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Pangkat/golongan ruang PNS yang saya capai selama masa tersebut adalah Pembina Utama Muda/IV/c. Sedangkan jabatan peneliti adalah Peneliti Madya.

Pada tahun berikutnya merupakan cobaan yang berat dalam keluarga saya. Isteri telah pergi mendahului buat selamanya akibat penyakit yang dideritanya pada tanggal 26 Agustus 2019. Semoga dia husnul khatimah.

Pada tahun 2021 saya berkesempatan lagi melakukan ibadah Umroh ke tanah suci. Kali ini membawa serta ananda Arini Kurniadewi. Sebetulnya perjalanan ini direncanakan untuk membawa serta isteri. Namun sebelum terlaksana, isteri telah terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Alfatihah. Aamiin.

Pada suatu kesempatan dengan istri.

Bertugas sebagai peneliti bukan hanya membuat perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan hasil penelitian. Tetapi dituntut juga untuk melakukan penyebaran dan pengembangan hasil penelitian dalam bentuk karya ilmiah.  Media untuk menyampaikan karya ilmiah tersebut antara lain dalam  bentuk seminar, buku dan jurnal ilmiah. Beberapa judul karya tulis saya dapat di lihat pada Daftar 1. 

Apabila pembaca berkenan membuka diinternret web saya: WinardiVision atau menghubungi tautan: https://winardivision.org/ maka akan dapat juga membaca beberapa tulisan saya. Demikian juga kalau ingin melihat saya di dalam instagram, silahkan cari akun: @winardi_vision01.

Daftar 1. Beberapa karya ilmiah dalam bentuk seminar:

1. Winardi., I. Manti, Buharman dan E. Basuno 2004.  Studi pendasaran beberapa FSZ (Farming System Zone) di Propinsi Bengkulu. Hal. 338-358.  Prosiding Seminar Nasional Kontribusi Hasil-Hasil Penelitian/Pengkajian Spesifik Lokasi Mendukung Pembangunan Pertanian Sumatera Barat. Departemen Pertanian.

2. Winardi.  2008.  Status pemupukan padi sawah pada lahan irigasi di Sumatera Barat.  Hal. 383-395.  Prosiding Seminar Nasional dan Dialog Sumberdaya Lahan Pertanian (Buku 2: Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan). Departemen Pertanian.

3. Winardi.  2008.  Perbaikan kesuburan tanah dan penggunaan varietas tenggang kemasan dalam pengembangan kedelai pada lahan kering masam.  Hal. 371-382.  Prosiding Seminar Nasional dan Dialog Sumberdaya Lahan Pertanian (Buku 2: Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan). Departemen Pertanian.

4. Winardi dan Yufdi, P. 2011.  Potensi pengembangan sistem integrasi tanaman-ternak (SITT) di Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat berdasarkan peta zona agroekologi (ZAE) skala 1:50.000. Hal. 466-473.  Dalam: Rauf, A., T. Irmansyah, Mukhlis dan Razali (Eds.).  Prosiding Seminar Nasional Pertanian Presisi. Kerjasama Program Pascasarjana Fak. Pert. USU dengan Dinas Pert. Prop. Sumut dan BPPT Sumut.

5. Winardi dan Yufdi, P. 2011.  Peluang pengembangan pola tanam padi sawah-palawija/sayuran di Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat berdasarkan peta zona agroekologi (ZAE) skala 1:50.000.  Hal. 474-482.  Dalam: Rauf, A., T. Irmansyah, Mukhlis dan Razali (Eds.).  Prosiding Seminar Nasional Pertanian Presisi. Kerjasama Program Pascasarjana Fak. Pert. USU dengan Dinas Pert. Prop. Sumut dan BPPT Sumut.

6. Winardi dan Azwir.  2014.  Pengujian beberapa varietas unggul padi sawah dengan beberapa cara tanam pada lahan sawah bukaan baru Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.  Hal. 899-909.  Prosiding Seminar Nasional 2013 Inovasi Teknologi Padi Adaptif Perubahan Iklim Global Mendukung Surplus 10 Juta Ton Beras Tahun 2014 (Buku 2). Kementerian Pertanian.

7. Winardi.  2014.  Prospek budidaya kedelai pada lahan sawah tadah hujan dan sawah irigasi sederhana untuk peningkatan produksi.  Hal. 270-280.  Dalam: Hutabarat B., Hermanto dan S. H. Susilowati (Penyunting).  Prosiding Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia ke 33 (Buku 1).  Kementerian Pertanian.

Padang, 10 September 2022

Winardi Khatib