III. Studi Kasus
Empat metode yang baru disebutkan di atas dibandingkan dalam studi kasus berbentuk kajiterap lapangan. Disamping empat metode yang sudah dijelaskan, juga dipakai cara petani sebagai kontrol. Metode cara petani untuk selanjutnya disebut Petani saja.
Pengkajian dilakukan di Nagari (Desa) Jawi-Jawi Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat dari bulan Juni sampai dengan September 2015. Lokasi penelitian berada pada ketinggian sekitar 700 m di atas permukaan laut.
Varietas padi Cisokan digunakan sebagai objek penelitian yang ditanam pada lahan sawah irigasi. Pemeliharaan tanaman dilakukan secara intensif. Takaran pupuk yang dipakai untuk lokasi tersebut didasarkan kepada rekomendasi masing-masing metode yang dikaji, yaitu seperti berikut:
A. KATAM: 250 kg/ha Urea, 75 kg/ha SP-36 dan 50 kg/ha KCl (1/3 bagian Urea + seluruh SP-36 + seluruh KCl diberikan sebagai pupuk dasar; 2/3 bagian Urea sebagai pupuk susulan).
B. BPTP Sumbar: 50 kg/ha Urea + 75 kg/ha SP-36 + 50 kg/ha KCl diberikan sebagai pupuk dasar. Kebutuhan Urea susulan diperiksa dengan BWD (Bagan Warna Daun).
C. IRRI/BALITPA: 200 kg/ha pupuk NPK (seluruhnya diberikan sebagai pupuk dasar).
D. Analisis tanah: 50 kg/ha Urea + 50 kg/ha SP-36 + 50 kg/ha KCl diberikan sebagai pupuk dasar. Kebutuhan Urea susulan diperiksa dengan BWD (Bagan Warna Daun). Analisis tanah dilakukan di laboratorium tanah dan tanaman BPTP Sumbar.
E. Petani: 150 kg/ha Urea, 75 kg/ha SP-36, 25 kg/ha KCl (1/2 bagian Urea + seluruh SP-36 + seluruh KCl diberikan sebagai pupuk dasar; 1/2 bagian Urea sebagai pupuk susulan). Takaran ini berdasarkan rata-rata penggunaan petani setempat.
Catatan: Informasi alat dan penggunaan BWD (Bagan Warna Daun) dalam penetapan pupuk padi sawah dapat menghubungi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi; Jl. Raya Patok Besi, Subang No. 9; Rancajaya, Kec. Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat 41256
IV. Hasil Studi Kasus
Hasil pengkajian menunjukan bahwa keempat metode rekomendasi memberi hasil bervariasi dari 7,1 hingga 8,4 ton per hektar. Hasil tersebut lebih tinggi dari Petani (6,0 ton per hektar). Sebaran hasil dapat dilihat pada Gambar 4.
Metode rekomendasi analisis tanah di laboratorium sebenarnya memberikan hasil termasuk tinggi yaitu 7,9 ton per hektar. Namun metode tersebut kurang bisa dianjurkan untuk kalangan petani karena membutuhkan biaya relatif mahal disamping membutuhkan waktu analisis di laboratorium.
Tinggal tiga metode rekomendasi lainnya (IRRI/BALITPA, KATAM, BPTP Sumbar) yang layak digunakan secara teknis untuk lokasi penelitian. Namun dari ketiga metode rekomendasi tersebut maka penggunaan metode IRRI/BALITPA dan KATAM memungkinkan digunakan lebih praktis karena mudah diakses melalui internet. Apalagi dewasa ini informasi internet semakin mudah diperoleh. Sedangkan BPTP Sumbar menghimpun informasi dalam bentuk buku.
Selanjutnya bila dibandingkan antara metode IRRI/BALITPA dengan KATAM maka yang disebut terdahulu diperkirakan lebih akurat dalam penetapan pupuk secara spsifik lokasi karena disamping menggunakan faktor kesuburan tanah dan iklim juga faktor pengelolaan setiap petak lahan.
Dengan demikian penulis cenderung mempunyai pilihan untuk ketiga metode dalam penetapan pemupukan padi dengan prioritas sebagai berikut: prioritas pertama IRRI/BALITPA, prioritas kedua KATAM dan prioritas ketiga BPTP.

Baca juga: Inovasi Teknologi Budidaya Kedelai untuk Peningkatan Hasil
Demikianlah tulisan Pengkajian Beberapa Metode Rekomendasi Pemupukan Padi Sawah dapat disampaikan, semoga bermanfaat. Bagi pembaca yang ingin bertanya atau berkomentar dipersilahkan menghubungi email: winardikh5319@gmail.com atau WA: 082287428008. Kolom komentar juga tersedia di laman Kontak.
