Oleh: Winardi Khatib

Abstract
Currently, there are several recommended methods of fertilization for lowland rice. These recommendations are issued by several agencies or institutions, including: IRRI (Internasional Rice Reasearch Institute), Agency of Agricultural Research and Development (AARD), Assessment Institute for Agricultural Technology (AIAT) and others.
In order to determine the effectiveness of the recommended method of fertilization for lowland rice, a field application test study has been carried out in Jawi-Jawi Village, Gunung Talang District, Solok Regency in 2015.
The object of this research is the Cisokan variety which is planted in irrigated rice fields and intensive plant maintenance. Fertilizer recommendations use four methods (KATAM, IRRI/BALITPA, West Sumatra BPTP, Soil Analysis) and the Farmer’s method as a control.
The grain produced by the four methods varied from 7.1 to 8.4 ton per hectare, which is higher than that of farmers (6.0 ton per hectare). The author tends to prioritize the selection of methods, namely: the first priority: IRRI/BALITPA, the second priority: KATAM and the third priority: BPTP.
Abstrak
Dewasa ini telah tersedia beberapa metode rekomendasi pemupukan untuk padi sawah. Rekomendasi tersebut dikeluarkan oleh beberapa intansi atau lembaga, antara lain: IRRI/BALITPA, Badan Litbang Pertanian, BPTP dan lain-lain.
Guna mengetahui efektivitas metode rekomendasi pemupukan untuk padi sawah maka telah dilakukan pengkajian ujiterap lapangan di Desa Jawi-Jawi, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok pada tahun 2015.
Objek penelitian menggunakan varitas Cisokan yang ditanam pada sawah irigasi dan pemeliharaan tanaman secara intensif. Rekomendasi pemupukan menggunakan empat metode (KATAM, IRRI/BALITPA, BPTP Sumbar, Analisis Tanah) dan cara Petani sebagai kontrol.
Gabah yang dihasilkan dari empat metode bervariasi dari 7,1 hingga 8,4 ton per hektar, yaitu lebih tinggi dari petani (6,0 ton per hektar). Penulis cenderung membuat prioritas pemilihan metode, yaitu: prioritas pertama: IRRI/BALITPA, prioritas kedua: KATAM dan prioritas ketiga: BPTP
I. Pendahuluan
Tidak banyak kalangan yang mengetahui berapa dosis yang tepat untuk suatu petakan sawah. Hal tersebut disebabkan oleh karena masih rendahnya tingkat pengetahuan kebanyakan petani. Disamping itu masih terbatas pula informasi mengenai lahan pertanian.
Dewasa ini telah tersedia beberapa metode rekomendasi pemupukan padi sawah. Rekomendasi tersebut dikeluarkan oleh beberapa intansi atau lembaga, antara lain: IRRI/BALITPA, Badan Litbang Pertanian, BPTP dan lain-lain. Selain itu rekomendasi pemupukan bisa juga dikeluarkan dari hasil analis tanah di laboratorium.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan pengalaman pengkajian beberapa metode rekomendasi pemupukan padi sawah. Pengalaman ini sewaktu penulis masih bekerja sebagai peneliti di BPTP Sumbar. Sebelum masuk kepengalaman dimaksud terlebih dahulu dikemukan penjelasan ringkas dari metode yang dikaji, yaitu seperti di bawah ini.
II. Beberapa Rekomendasi Pemupukan
1. IRRI/BALITPA
IRRI, badan penelitian padi internasional bekerjasama dengan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BALITPA) dari Kementerian Pertanian RI telah mengeluarkan rekomendasi pemupukan padi sawah di Indonesia. Rekomendasi didasarkan kepada kondisi tanah, iklim dan pengelolaan lahan sawah. Dengan demikian rekomendasi pemupukan dapat diberikan untuk setiap petakan sawah.
Rekomendasi pemupukan ditujukan untuk lokasi sawah setempat (spesifikasi lokasi) makanya dikenal juga dengan nama PHSL (Pengelolaan Hara Spesifik Lokasi). Untuk mendapatkan rekomendasi bisa menelusuri web:
webapps.irri.org/id/lkp/ Halaman muka situs web seperti pada gambar 1.

2. KATAM
KATAM (Kalender Tanam) adalah upaya penelitian dan pengkajian di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI dengan situs web: katam.litbang.pertanian.go.id. Hasil penelitian dan pengkajian melalui situs web merekomendasikan musim dan jadwal tanam lahan sawah untuk padi dan palawija (jagung dan kedelai) untuk seluruh wilayah Indonesia.
Selain musim dan jadwal tanam dalam perkembangannya KATAM juga merekomendasikan faktor produksi lain termasuk pemupukan. Rekomendasi pemupukan padi sawah dikeluarkan untuk tingkat kecamatan. Dalam perkembangan tersebut KATAM menjelma menjadi KATAM TERPADU MODERN. Untuk mendapatkan rekomendasi pupuk lahan sawah bisa menelusuri web situs di atas. Halaman depan situs web seperti terlihat pada Gambar 2.

3. BPTP Sumbar
Pada Tahun 2011 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumbar dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI telah mengeluarkan rekomendasi pemupukan padi sawah untuk 313 kecamatan di Sumatera Barat. Rekomendasi pemupukan tersebut sebagai komponen teknologi dalam rangka mendukung kegiatan SL-PTT (Sekolah Lapangan-Pengelolaan Tanaman Terpadu) Padi Sawah.
Rekomendasi pemupukan diperoleh dari pengalaman melakukan percobaan lapangan. Rekomendasi pemupukan tersebut dihimpun dalam buku seperti Gambar 3. Informasi pustaka buku adalah: Anonymous. 2011. Rekomendasi Inovasi Teknologi Spesifik Lokasi PTT Padi Sawah Mendukung P2BN di Sumatera Barat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian.

4. Analisis tanah
Dari data analisis tanahpun di laboratorium bisa pula dibuat rekomendasi pemupukan padi sawah, yaitu berdasarkan ketersediaan unsur hara. Ketersediaan unsur hara tersebut dibandingkan dengan kebutuhan hara tanaman. Kalau memang diperlukan tambahan hara maka tambahan tersebut dikonversi kedalalam bentuk pupuk.
