Oleh: Winardi Khatib
Gunung Bungsu terletak di Nagari Taeh Bukik, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Propinsi Sumatera Barat. Meskipun demikian sebenarnya ada beberapa nagari lain yang terletak disekitar Gunung Bungsu, yaitu nagari Lubuak Batingkok, nagari Gurun dan nagari Solok Bio Bio (semunya di Kecamatan Harau) serta nagari Simpang Kapuak, Kecamatan Mungka. Dari kota Payakumbuh kita menempuh jalan sekitar 15 km kearah utara untuk sampai di Taeh Bukik tempat memulai pendakian.
Gunung Bungsu terletak di gugusan Bukit Barisan dengan ketinggian 1253 m dpl. (dari permukaan laut). Tidak terlalu tinggi sebenarnya namun gunung ini memiliki banyak keistimewaan. Di sekitar gunung bisa dijumpai flora dan fauna yang beragam dan bermanfaat. Bagi penduduk sekitar Gunung Bungsu dijadikan sebagai tempat ritual basafa. Khusus untuk tujuan wisata kita akan menemukan berbagai tantangan namun masih ramah untuk pemula. Karena waktu pendakian relatif tidak terlalu lama maka cocok untuk membawa serta keluarga.
Akses menuju Gunung Bungsu sudah cukup memadai dimana jalannya sudah diaspal. Pengunjung dari Padang atau Bukittinggi terlebih dahulu ke Payakumbuh yang berjarak 125 km dari Padang dan 33 km dari Bukittinggi. Sesampai di Payakumbuh, perjalanan bisa dilanjutkan melalui dua rute, salah satunya melalui Tanjungpati (dekat Sarilamak ibukota Kabupaten Limapuluh Kota). Alternatif lain melalui jalan raya Payakumbuh-Suliki dan sesampainya di Nagari Taeh Baruah berbelok ke kanan menuju Taeh Bukik.
Sedangkan pengunjung dari arah Pekanbaru cukup berbelok di Tanjungpati yang berjarak lebih kurang 180 km dari Pekanbaru. Dalam menuju lokasi yang penting jangan malu untuk bertanya kepada penduduk yang dijumpai. Ada hal baik juga, begitu keluar dari kota Payakumbuh atau daerah Tanjungpati kita bisa melihat keberadaan Gunung Bungsu di hadapan dengan jelas.
Sayangnya dari Payakumbuh relatif jarang angkutan umum kesana. Namun demikian kita dapat menyewa kendaraan baik berupa ojek atau bis travel di Payakumbuh. Bagi yang membawa kendaraan sendiri sudah jelas tidak ada masalah. Hanya disarankan tidak membawa bus besar, dikhawatirkan akan mengurangi kelancaran perjalanan di lokasi.
Sebelum sampai lokasi, sebenarnya diperjalanan kita sudah disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Apabila kita lewat Tanjungpati, begitu memasuki nagari Taeh Bukik kita melewati tanjakan yang cukup curam yang lokasinya disebut Tombak. Di puncak Tombak kita bisa melihat pemandangan yang indah dengan hamparan sawah, pemukiman dan gugusan Bukit Barisan. Bagi yang ingin beristirahat di sini juga tersedia homestay. Sedangkan apabila melalui jalan raya Payakumbuh-Suliki, nanti kita akan menempuh padang rumput yang luas di kaki Gunung Bungsu. Disini juga mempunyai pemandangan yang tak kalah menariknya.
Pendakian Gunung Bungsu sebaiknya bertepatan dengan bulan Shafar menurut penanggalan Hijriyah. Pada bulan tersebut masyarakat sekitar banyak mengunjungi gunung untuk melakukan tradisi basafa. Basafa yaitu pergi ke gunung untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yang diiringi dengan membaca salawat. Meskipun demikian tidak ada salahnya juga untuk melakukan pendakian pada waktu di luar bulan Safar.
Setelah sampai di nagari Taeh Bukik pastikan kita berada di wilayah Labuh Basilang. Di sinilah tempat memulai pendakian. Di sini kita bisa menitipkan kendaraan yang kita bawa kepada penduduk setempat. Pastikan juga segala perlengkapan yang akan dibawa. Bagi yang bermaksud kembali pada hari yang sama yang terpenting adalah bekal makanan. Namun bagi yang bermaksud bermalam atau mendirikan kemah diperlukan juga alat-alat untuk berkemah.
Perhatikan tips untuk pendakian, antara lain: Kesehatan. Kesehatan merupakan persyaratan utama karena hal tersebut menentukan lancar tidaknya perjalanan. Logistik. Peralatan, seperti sepatu lapangan sebaiknya digunakan dalam pendakian. Pakailah pakaian yang menutupi dan menjaga tubuh dengan baik. Begitu juga dengan konsumsi selama perjalanan. Untuk kasus Gunung Bungsu yang bisa dikunjungi dalam satu hari pergi dan pulang, dibutuhkan satu hingga dua porsi makanan berat dan air minum secukupnya. Namun bila ingin berkemah atau bermalam di puncak diperlukan peralatan kemah dan alat memasak. Tertib. Ketertiban dan kesopanan perlu dijaga selama perjalanan serta ramah dengan masyarakat sekitar. Hati-hati. Selalu hati-hati dan waspada terhadap hal-hal yang bisa merugikan keselamatan diri sendiri atau orang lain. Jaga lingkungan. Lingkungan perlu dijaga seperti tidak membuang sampah sembarangan dan melakukan corat coret.
Dalam perjalanan menuju puncak akan ditemui berbagai tingkat kemiringan jalan. Kadang cukup landai dan tidak jarang pula menemui jalan yang cukup terjal dengan kemiringan 60-80 derajad. Disini akan teruji kesabaran dan ketabahan masing-masing kita. Namun jangan terlalu khawatir, masyarakat setempat telah membuat tangga di tempat-tempat yang dirasa perlu, lengkap dengan pegangan tangannya. Apabila lancar dalam perjalanan maka sekitar 3 jam kita telah sampai di puncak.
Begitu sampai di puncak rasa capekpun hilang seketika melihat bentangan alam Limapuluh Kota. Kita bisa melihat kota Payakumbuh, bentangan sawah, pemukiman, lembah Harau, Batang Lampasi dan Batang Sinamar yang berkelok-kelok dari hulu ke hilir. Juga kita bisa menyaksikan deretan Bukit Barisan dengan G. Sago, G. Marapi dan G. Pasaman. Kenikmatan akan lebih terasa bila perut terasa lapar dan menyantap bekal yang dibawa.
Gunung Bungsu sebagai arena paralayang
Selain sebagai olahraga pendakian ternyata Gunung Bungsu menyimpan potensi sebagai tempat olahraga ekstrim akrobatik paralayang. Hal tersebut terbukti dengan pernah digelarnya kejuaraan karnaval tingkat nasional dan internasional. Landasan terbang (take off) di Puncak Lontiak dengan ketinggian 1100 m dpl. bisa menampung 10 parasut terbang. Artinya lokasi tersebut tergolong cukup luas bagi yang ingin bereksplorasi secara berkelompok. Sedangkan tempat mendarat (landing) di Anak Kayu pada ketinggian 760 m dpl. dengan luas 200 hektar. Tempat pendaratan dinilai aman bagi penerbang serta cocok digunakan untuk even kejuaraan (Arfidel Ilham, 2024).
Berbagai hal menarik sekitar Gunung Bungsu
Taeh Bukik yang terletak di lereng Gunung Bungsu merupakan salah satu sentra produksi durian di Kabupaten Limapuluh Kota. Demikian juga nagari ini merupakan sentra produksi gula aren. Dengan demikian pengunjung yang datang ke wilayah ini bertepatan dengan musim durian dapat berburu buah yang menjadi raja segala buah ini. Demikian juga pengunjung yang ingin merasakan gurihnya nira aren bisa datang pagi atau sore hari disaat buluh-buluh penampung nira diturunkan dari pohon aren.
Taeh Bukit juga merupakan sentra produksi gambir di Sumatera Barat. Meskipun gambir penting sebagai komoditas ekspor, tidak banyak masyarakat yang kenal dengan tanaman yang diusahakan dalam kawasan hutan ini. Pengolahan (pengempaan) getah gambir yang dilakukan secara tradisional dan terasa unikpun belum banyak dikenal secara luas. Bila ada pengunjung yang ingin mengenal keberadaan kebun gambir dengan cara pengolahan hasilnya bisa berkunjung ke kawasan Lambe.
Di Nagari Lubuak Batingkok (Kecamatan Harau) kita bisa mengunjungi objek wisata agro Bukit Lalang. Yaitu suatu kawasan tempat bermain keluarga dan berkemah dengan pemandangan yang sangat indah dan udara yang sejuk. Di nagari Harau kita bisa mengunjungi kawasan wisata Dangau 1000. Di sini kita bisa menyaksikan banyaknya dangau (pondok) dan rumah gadang di tengah areal persawahan yang bisa disewa untuk menginap. Masih di Kecamatan Harau kita bisa pula menyaksikan sang surya tenggelam dikala senja di balik Gunung Bungsu dari panorama Soriak Land.
Itulah sedikit informasi mengenai objek wisata Gunung Bungsu dan sekitarnya mulai dari wisata alam, wisata minat khusus dan wisata agro. Kapan lagi, silahkan anda untuk berkunjung bersama keluarga.
